Fabrikasi [03] : Memahami As Sunnah Dengan Pemahaman Jernih

Diriwayatkan dari Utsman bin Umar, ia berkata : “Datang seorang laki-laki kepada Imam Malik untuk bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu : “Rasulullah saw bersabda begini dan begitu”, lalu lelaki itu berkata : “Bagaimana pendapatmu?”.Banyak dari kita ini mengaku sebagai Ahlus Sunnah, namum ternyata mereka menyalahi sunnah itu sendiri. Seperti peribahasa “Semua orang mengakui mencintai Laila, namum Laila tidak mengenal mereka”.

Syeikh Syaikh Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani berkata; “Sunnah secara bahasa artinya adalah jalan atau riwayat hidup, baik ataupun buruk. Sementara sunnah menurut istilah para ulama aqidah Islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para sahabat beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan ; si Fulan temasuk Ahlus Sunnah. Artinya, ia orang yang mengikuti jalan yang lurus dan terpuji”.

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali ra menyatakan: “Sunnah adalah jalan yang dilalui, termasuk diantaranya adalah berpegang teguh pada sesuatu yang dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Al-Khulafa Ar-Rasyidun, berupa keyakinan, amalan dan ucapan. Itulah bentuk sunnah yang sempurna”. [Jami’ul Ulumiwal Hikam I : 120]

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah ra menyatakan : “Sunnah adalah sesuatu yang ditegakkan di atas dalil syari’at, yakni ketaatan kepada Allah dan RasulNya, baik itu perbuatan beliau, atau perbuatan yang dilakukan di masa hidup beliau, atau belum pernah beliau lakukan dan tidak pula pernah dilakukan di masa hidup beliau karena pada masa itu tidak ada hal yang mengharuskan itu dilakukan pada masa hidup beliau, atau karena ada hal yang menghalanginya”.[Majmu’ Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah XXI : 317]

Makna Bid’ah Dari Terminologi

Sementara itu makna bid’ah dari bahasa adalah sepertimana yang telah dikatakan oleh Muhammad Bin Husain al Jizani:

Pertama:

Bid’ah adalah ‘sesuatu yang diciptakan (diadakan) tanpa ada contoh sebelumnya’.

Makna ini sebagaimana dalam firman Allah: “Katakanlah, “Aku bukanlah rasul pertama diantara para rasul” [Al-Ahqaaf : 10]

Makna ini juga terdapat dalam perkataan Umar ra: “Sebaik-baiknya bid’ah” [Dikeluarkan oleh Al-Bukhari 4/250 no.2010]

Juga dalam perkataan para imam lainnya seperti Imam Syafi’i, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang baik dan bid’ah yang tercela, jika sesuai sunnah, maka itu yang baik, tapi kalau bertentangan dengannya, maka itulah yang tercela” [Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam Al-Hilyah 9/113]

Ibnu Rajab berkata: “Adapun yang terdapat dalam perkataan ulama salaf yang menganggap baik sebagian bid’ah adalah bid’ah dalam pengertian bahasa. Bukan bid’ah dalam pengertian syari’at. Di antaranya perkataan Umar tatkala memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan di satu tempat dengan dipimpin seorang imam, maka beliau berkata, “Inilah sebaik-baiknya bid’ah” [Jaamiul Uluum wal Hikam 1/129]

Kedua:

Bererti lelah dan bosan, dikatakan “Abda’at Al-ibilu” artinya unta bersimpuh di tengah jalan, karena kurus atau (terkena) penyakit atau lelah.

Di antara penggunaan kata bid’ah dalam makna ini adalah perkataan seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah, “Innii ubda’u bii fahmiini” (Sesungguhnya saya kelelahan, tolong berilah saya bekal), maka Rasulullah berkata, ‘Saya tidak punya”. Maka seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan tunjukan dia kepada orang yang bisa membantunya”. Maka Rasulullah berkata :

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [Hadits Riwayat Muslim 13/38-39]

Sebenarnya makna ini tetap kembali kepada makna yang pertama, sebab makna ‘unta bersimpuh’ adalah rasa lelah yang mulai merasukinya, padahal sebelumnya tidak.

Makna Bid’ah Dari Segi Epistimologi

Muhammad bin Husain Al-Jizani berkata:

Banyak sekali hadits-hadits nabawi yang mengisyaratkan makna syar’i dari kata bid’ah, di antaranya:

[1]. Hadits Al Irbadh Ibnu Sariyah, di dalam hadits ini ada perkataan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Jauhilah hal-hal yang baru (muhdatsat), karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”

[Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya dan teksnya milik Abu Dawud 4/201 no. 4608, Rmu Majah 1/15 No. 42, At-Tirmidzi 5/44 no. 2676 dan beliau berkata bahwa ini hadits hasan shahih dan hadits ini dishahihkan oleh Al Albaniy dalam Dhilaalul Jannah fii Takhriijissunnah karya lbnu Abi Ashim: no. 27]

[2]. Hadits Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berkata dalam khuthbahnya:

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebagus-bagusnya tuntunan adalah tuntunan Mnbammad dan urusan yang paling jelek adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.”

[Dikeluarkan dengan lafadz ini oleh An- Nasa’i dalam As-Sunan 3/188 dan asal hadits dalam Shahih Muslim 3/153. Untuk menambah wawasan coba lihat kitab Khutbat Al-Haajah, karya Al-Albany]

Dan jika telah jelas dengan kedua hadits ini, bahwa bid’ah itu adalah al-mubdatsah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama), maka hal ini menuntut (kita) untuk meneliti makna ibda’ (mengada-adakan dalam agama) di dalam sunnah, dan ini akan dijelaskan dalam hadits-badits berikut:

[3]. Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.”

[Hadits Riwayat Al-Bukhari 5/301 no. 2697, Muslim 12/61 dan lafadz ini milik Muslim]

[4]. Dalam Riwayat Lain:

“Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan(agama) kami, maka dia akan tertolak.”

[Hadits Riwayat. Muslim 12/16]

Keempat hadits di atas, jika diteliti secara seksama, maka kita akan mendapatkan bahwa semuanya menunjukkan batasan dan hakikat bid’ah menurut syari’at. Maka dari itu bid’ah syar’iyyah memiliki tiga batasan (syarat) yang khusus. Dan sesuatu tidak bisa dikatakan bid’ah menurut syari’at, kecuali jika memenuhi tiga syarat, yaitu:

[a]. Al-Ihdaats (mengada-adakan)
[b]. Mengada-adakan ini disandarkan kepada agama
[c]. Hal yang diada-adakan ini tidak berpijak pada dasar syari’at, baik secara khusus maupun umum.

Komparasi Antara Makna Bahasa Dan Makna Syara’

Dalam kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, karya Muhammad bin Husain Al-Jizani, dia berkata:

Pengertian bid’ah dalam kacamata bahasa (lughah) lebih umum dibanding makna syar’inya. Antara dua makna ini ada keumuman dan kekhususan yang mutlak, karena setiap bid’ah syar’iyyah masuk dalam pengertian bid’ah lughawiyyah, namun tidak sebaliknya, karena sesungguhnya sebagian bid’ah lughawiyyah seperti penemuan atau pengada-adaan yang sifatnya materi tidak termasuk dalam pengertian bid’ah secara syari’at [Lihat Iqhtidlaush Shirathil Mustaqim 2/590]

Jika dikatakan bid’ah secara mutlak, maka itu adalah bid’ah yang dimaksud oleh hadits “Setiap bid’ah itu sesat”, dan bid’ah lughawiyyah tidak termasuk di dalamnya, oleh sebab itu sesungguhnya bid’ah syar’iyyah disifati dengan dlalalah (sesat) dan mardudah (ditolak). Pemberian sifat ini sangat umum dan menyeluruh tanpa pengecualian, berbeda dengan bid’ah lughawiyyah, maka jenis bid’ah ini tidak termasuk yang dimaksud oleh hadits : “Setiap bid’ah itu sesat”, sebab bid’ah lughawiyyah itu tidak bisa diembel-embeli sifat sesat dan celaan serta serta tidak bisa dihukumi ditolak dan batil.

Hubungan Antara Sunnah Dengan Bid’ah

Muhammad bin Husain Al-Jizani berkata lagi:

Pengertian lafazh sunnah dan bid’ah tidak jauh berbeda bila ditinjau dari segi lughawi (bahasa) dan syar’i.

[1]. Ditinjau Dari Makna Lughawi

Sunnah menurut bahasa berarti juga bid’ah, karena sunnah secara bahasa berarti ath-thariqah (jalan), apakah itu baik ataupun buruk. Oleh sebab itu setiap orang yang memulai suatu hal yang pada akhirnya dilakukan oleh banyak orang sesudahnya, maka hal itu disebut sunnah. [Lihat Al-Mishbah Al-Munir 292]

Jadi sunnah dan bid’ah dalam makna lughawi adalam sama. Di antara contoh penggunaan lafazh sunnah dalam makna lughawi adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Barangsiapa memberi contoh dalam Islam dengan contoh yang baik, maka dia akan mendapatkan pahala (seperti) pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa memberi contoh yang jelek, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia, tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka” [Hadits Riwayat Muslim 7/102-103][2].

Ditinjau Dari Makna Syar’i

Sunnah dalam makna syar’i merupakan kebalikan dari makna syar’i bid’ah, karena sunnah menurut syari’at adalah jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan bid’ah adalah sesuatu yang berseberangan dengan jalan (petunjuk) beliau beserta para sahabatnya. Jadi sunnah dan bid’ah dalam makna syar’i adalah dua lafazh yang saling berseberangan, seperti dalam perkataan Rasulullah.

“Tidaklah suatu kaum mendatangkan bid’ah melainkan diangkat semisal bid’ah itu suatu hal dari sunnah, maka berpegang kepada sunnah itu lebih baik daripada mendatangkan bid’ah” [Hadits Riwayat Ahmad dalam Al-Musnad 4/105]

Dalam hadits lain juga disebutkan.

“Sesungguhnya setiap ahli ibadah mempunyai semangat, dan setiap semangat itu ada lemahnya, mungkin pada sunnah atau mungkin pada bid’ah. Barangsiapa masa lemahnya pada sunnah, maka dia itu telah mendapat hidayah dan barangsiapa masa lemahnya pada selain itu, maka dia binasa” [Hadits Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya 2/158]

Pembahagian Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Dhalalah

Pertama

Sesungguhnya Rasul telah berkata: Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan akan menggiring ke neraka”.

Maka apakah akn ada lagi ruang untuk mengatakan bahawa ada bid’ah yang tidak sesat padahal Rasul menggunakan kalimat “setiap”, iaitu satu ungkapan yang menunjukkan keseluruhan tanpa pengecualian.

Begitulah ketika Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan menemui maut”.

Apakh disitu ada pengecualian? Pasti jawabannya tidak. Maka berbalik kepada hadith diatas, kalaulah memang “setiap” itu bukan keseluruhan, melainkan sebahagian besar”, maka apakah mungkin kita bisa katakan “sebahagian besar kesesatan akan ke neraka, dan akan ada sedikit kesesatan yang akan ke syurga”. Begitu juga apakah kita bisa mengatakan bahawa ada sedikit kesesatan yang hasanah?

Kedua

Kemudian mereka berhujjah dengan hadith ini:

“Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam Sunnatun Hasanah, maka di amalkan orang lain kemudian sunnahnya itu di berikan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya, kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit jua daripada pahala orang yang mengerjakannya kemudian. Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam Sunatun sai’ah, maka di amalkan orang kemudian sunnah buruknya itu, diberikan kepadanya dosa seperti dosa orang yang mengerjakan kemudiannya dengan tidak mengurangi sedikit pun jua dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu”. [Hadis riwayat Muslim: 1017]

Untuk memahami hadith ini, baik kiranya kita meneliti punca penurunan hadith tersebut. Hadith ini dituturkan ketika kaum Muslimin menghadapi Peperangan Tabuk. Maka Rasulullah menyarankan kepada kaum Muslimin untuk mengeluarkan harta sebagai sadaqah tetapi kaum Muslimin agak keberatan sehingga riak muka Nabi berubah kerana terkilan. Kemudian datang seorang lelaki lalu menyerahkan bekas berisi emas dan barang perhiasan sebagai sadaqah kepada baginda. Setelah kaum Muslimin melihat perlakuan lelaki tersebut maka mereka pun ramai-ramai mengeluarkan sadaqah. Akhirnya Rasul pun menuturkan hadith di atas. [Lihat Sahih Muslim 1017]

Apakah bersedeqah itu satu yang bahari direka-reka atau telah wujud dan memang ditunjukkan oleh Rasulullah dan para Khalifah serta para sahabat? Lalu kalau lah hadith tersebut dijadikan hujjah keabsahan bid’ah Hasanah, dimanakah amal baharu dalam asbabul wurud diatas?

Justeru perkatan sanna itu bermakna “menghidupkan amalan sunnah”, bukan lah bermakna “mereka-cipta satu amalan”. Kerana itu hadith ini sekadar menunjukkan bahawa barang siapa yang melakukan satu amaln sunnah yang telah ditinggalkan, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikuti amalan sunnah tersebut.

Kalaulah ada orang berkata bahawa perkatan sanna itu bisa dijadikan hujjah atas kaedah al Ibrah bi Umum al Lafz wa Laisa Bi Khusus as Sabab [pengiraan hukum berdasarkan maksud umum (dalil) dan bukanlah berdasarkan sebab khusus (penurunan dalil)].

Maka kita katakan bahawa kaedah itu benar tetapi ia tidak dapat dipakai dalam lapangan ibadah, lantarn ibadah adalah tauqifiyah. Sehingga As Sindi berkata:

“Sunnah Hasanah ialah jalan yang diredhai lagi diikuti, dan perbedaan antara hasanah dan sayyiah (buruk) adalah sama ada ia menepati usul syara’ atau tidak”. [Ilmu Usul al Bi’ah, Syeikh Ali Hasan Al Halbi]

Justeru, kalau mereka mahu untuk mengukur bid’ah hasanah itu, apakh yang mereka pakai dalam menimbangnya? Apakah kretirea atau biromiter yang bisa setiap umat gunakan untuk menetapkan “Ini hasanah”, dan “Ini dhalalah”?

Saya telah tanyakan kebanyakan ustaz dan para ilmuan yang membolehkan bid’ah hasanah “Apakah yang bisa kita pakai untuk mengukur sesuatu darjah kebid’ahan, apakah ad syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, atau kaedah-kaedah yang dibina untuk menjelaskan hasanah dan dhalalah”. Maka mereka hanya akan berkata “Sesuatu yang tidak menyalahi syara’ itu adalah hasanah dan yang menyanggahi syara’ maka ia adalah dhalalah”.

Tetapi sebenarnya kaedah ini terlalu umum sehinggakan segala bid’ah akan menjadi hasanah dan tidak akan wujud dhalalah. Kerana itu saya tanyakan apakh beda antar Yasinan, tahlilan, berzanji dengan Solat Jamaah yang diimamkan oleh Perempuan yang diperjuangkan Aminah Wadud [dengan tandaan tidak berlaku percampuran lelaki dan perempuan]?

Lalu akhirnya barometer yang diguna pakai untuk mengukur bid’ah adalah logika [buktinya boleh lihat hujjah para pejuag bid’ah hasanah dalam membenarkan sesuatu amalan], bukannya dalil. Kalau pun ada dalil, ia hanyalah bersifat umum padahal setiap umum pasti ada yang mengkhususkannya. Padahal dalam ilmu usul telah ada penerangan seperti berikut:

[a]. Suatu unsur merupakan juz’iyyat (bahagian) dari suatu kulliyat (kumpulan besar)
[b]. Sesuatu yang ‘am (umum) biasanya diikuti dengan sesuatu yang khas (khusus)
[c]. Sesuatu yang muthlaq (mutlak) biasanya diikuti dengan muqayyid (yang membatasi)
[d]. Sesuatu yang mujmal (global) biasanya diikuti dengan bayan (penjelas)
[e]. Dan lain-lain yang serupa dengan itu.

Ketiga

Pembenaran bid’ah juga dibuat dengan hujjah perkatan Umar: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” [Shahih Bukhari dan Fathul Bari]

Maka kita mau bertanya, amal apakah yang Umar anggap bid’ah? Apakah zikir ramai-ramai, atau maulid nabawi, atay yasinan malam Jumaat, atau membaca Usalli ketika mau solat?

Atau dia mengucapkan kalimat itu ketika melihat manusia melakukan solat Tarawih secara berjamah? Dan inilah jawaban yang benar, iaitu Umat merasa nikmat apabila beliau berjaya mewujudkan solat tarawih secara berjamah.

Untuk menjawabnya, ada 2 sisi, yang kedua-dua sisi ini nyata tidak memberi kebenaran kepada bid’ah hasanah.

Pertamanya ialah amalan solat tarawih berjamah ini adalah satu amaln yang pernah Rasulullah lakukan pada permulaan kewajiban berpuasa, tetapi Rasul tinggalkan kerana bimbang amalan solat Tarawih berjamah akan menjadi satu kewajiban lantaran wahyu masih diturun dan Islam belum lengkap. Maka setelah wafatnya Rasul, sebagai bukti Islam itu sempurna dan pemberhentian wahyu maka Umar menghidupkan semula solat tarawih yang pernah Rasul lakukan.

Apakah menghidupkan semula amal sunnah Rasul boleh dikira sebagai membikin amal baharu? Pasti tidak! Yang nyata ialah bid’ah Hasanah ini dimaksudkan menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan, hal yang sama seperti kasus sadaqah di atas.

Keduanya ialah Rasulullah telah menetapkan bahawa amal Sahabat yang mendapat petunjuk, terutamanya Khalifah ar Rasyidin adalah sunnah juga. Seperti yang beliau sebutkan:

“Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwalah kepada Allah swt, mendengar dan patuh [kepada pemerintah] meskipun dia seorang hamba dari Habsyah, kerana sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahku akan melihat banyak pertentangan [perselisihan] yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para khalifah [pengikutku] yang mendapat petunjuk. berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian, dan jauhilah hal-hal yang baharu yang diada-adakan, kerana setiap yang baharu itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. [H R Abu Dawud dan lain-lain].

Maka Imam As Syatibi berkata dalam al I’tisam: “Nabi saw telah menyandingkan penyebutan Sunnah para Khulafa ar Rasyidin dengan Sunnah Beliau – sebagaiman yang anda lihat di atas – dan bahawasanya mengikut Sunnah para Khulafa ar Rasyidin adalah bahagian dari mengikuti Sunnah Beliau, sedangkan mengada-adakan dalam agama adalah perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah dan bukan bahagian dari Sunnah sedikitpun. Para Khulafa ar Rasyidin ketika meniti sebuah sunnah, memiliki dua kemungkinan:

[1]. Mengikuti Sunnah Nabi
[2]. Mengikuti apa yang mereka fahami dari sunnah Beliau secara global dan terperinci dalam sebuah sudut pandang yang mana hal seperti itu terkadang tertutup kepada orang selain mereka, namun tidak ada penambahan sedikitpun (dalam amalan tersebut).

Justeru, Umar ra hanyalah sekadar mengucapkannya dari segi bahasa, kerna dia adalah seorang Arab, yang pasti berbicara dalam kalimah Arab. Dia tidak maksudkan dari segi syara’ ketika mengucapkan kalimah tersebut.

Maka setelah itu, kita mahu tanyakan kepada orang yang membolehkan bid’ah hasanah mengenai Hadith di atas: “Bagaiman caranya mahu memenuhkan wasiat tersebut, iaitu mengamalkan dan berpegang teguh dengan sunnah sehingga “menggigit” dan dalam masa yang sama menjauhi bid’ah?”

Bukankah caranya ialah dengan melakukan amal persis seperti nabi tanpa tokok-tambah dan menghindari segala amal yang ada penambahan, dalam memenuhi wasiat tersebut. Maka manakah yang telah diberi jaminan oleh Rasul? Melakukan sunnah, atau melakukan bid’ah Hasanah? Yang pasti orang yang melakukan sunnah, dia telah melaksanakan wasiat tersebut dan diberi jaminan keselamatan. Namun orang yang melakukan bid’ah Hasanah itu masih belum punya jaminan, malah kelihatannya dia menyalahi wasiat tersebut. Justeru manakah yang lebih aman dan baik, antara yang pasti diberi jamin dan yang belum ketemu sebarang jaminan?

Keempat

Seterusnya digunakan alasan seputar pengucapan Ibn Mas’ud:

“Apa yang dipandang baik oleh kaum Muslimun maka disisi allah adalah baik [hasanah], dan apa yang kaum Muslimun melihatnya buruk maka di sisi Allah adalah sayyi [buruk]. [Al Hakim dalam Al Mustadrak no 4465]

Maka kita akan menjawabnya dengan 2 sisi,

pertama ialah dengan atsar yang telah berlalu [Dalam Fabrikasi [02]: Ketika Muhammad Dan Sahabatnya Berbicara] dimana ibn Mas’ud membantah kaum yang melakukan halaqah zikir jama’i dengan menggunakan tasbih, walaupun kaum tersebut melihat amal itu sesuatu yang baik.

Maka apakah yang Ibn Mas’ud maksudkan? Atau Ibn Mas’ud adalah manusia yang hanya pandai berbicara dan dia melanggar bicaranya sendiri ketika melarang kaum “zikir jama’i tadi? Atau dia merevisi tindakannya setelah itu dan insaf lalu mengeluarkan fatwa baharu sepertimana tsar diatas? Ini satu hal yang ganjil dan syaz kerana berselisih dengan contoh-contoh yang ditunjukkan oleh seluruh sahabat dalam melawan bid’ah.

Maka Menggunakan ucapan umum Ibn Mas’ud untuk memboleh bid’ah Hasanah adalah satu kesilapn kerana Ibn Mas’un dengan terang-terang telah mencela manusia yang melakukan bid’ah Hasanah atas alasan “memandang baik”.

Kedua ialah kalimat “kaum Muslimun” itu merukuk kepada siapa? Apakh seluruh umat yang mengucap syahadah atau kesepakatan sahabat sahaja?

Kalu merujuk kepada seluruh umat yang mengucap syahadah, maka kita harus menerima tentang keabsahan paham Mu’tazilah, paham Syi’ah, paham Khawarij dan sekelian paham yang lainnya, dan kita juga harus membenarkan segala bid’ah dhalalh. Kerana kaum Muslimin pasti akan ada yang menganggap baik paham-paham dan hal-hal ini.

Kalaulah Ibn Mas’ud memang mahukan makna yang kalian inginkan iaitu adanya hasanah, maka syarat yang ibn Mas’ud letakkan ialah harus wujud ijma. Padahal ijma telah tiada setelah berlalunya zaman sahabat. Sehingga Imam Ahmad berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahawa ijma masih berlaku, maka dia telah berdusta”.

Lalu yang benarnya adalah Ibn Mas’ud mengkehendaki kepada pandangan “baik” sahabat. Kerana sebab penuturan ini adalah berlaku dalam kasus perlantikan Khalifah Abu Bakr, yang mendapat persetujuan kaum Muslimin, iaitu para sahabat.

Maka apabila kita menerima pengertian “Kaum Muslimin” adalah “Sahabat” bererti pengingkaran beliau kepada Kaum Zikir Jama’i adalah bukti maksud pengertian ini. Sehingga makna atsar itu adalah:

“Apa yang dipandang baik oleh para sahabat maka disisi allah adalah baik [hasanah], dan apa yang para sahabat melihatnya buruk maka di sisi Allah adalah sayyi [buruk]”.

Kelima

Hujjah terakhir adalah pengucapan Imam Syafi’i:

“Bid’ah itu dua jenis; terpuji dan terkeji. Apa yang menepati sunnah adalah terpuji dan apa yang menyalahi [sunnah] adalah terkeji”. [Ibn Hajr Asqalani, Fathul Bari 13: 253]

Dalam riwayat lain:

“Apa yang menyalahi Kitab, Sunnah, Atsar atau Ijma, maka ia adalah bid’ah sesat, manakala apa yang tidak menyalahi semua itu, maka ia adalah bid’ah yang tidak tercela”. [Fathul Bari 13: 253]

Maka kita akan menjawabnya dengan 4 alasan.

Pertama adalah Imam syafi’e adalah manusia yang tidak ma’sum dan perkataannya bisa diterima dan bisa ditolak. Andai ucapannya menyalahi kebenaran maka harus ditolak, dan kalau ia menepati kebenaran maka harus diterima.

Imam Malik berkata tentang hal ini seperti berikut:

“Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri”. [Dikalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (1/227). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami’ (II/291), Ibnu Hazm dalam kitab Ushul Al-Ahkam (VI/145, 179), dari ucapan Hakam bin Utaibah dam Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam kitab Al-Fatawa (I/148) dari ucapan Ibnu Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata : “Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri”. Albani berkata : Kemudian Imam Ahmad pun mengambil ucapan tersebut. Abu Dawud dalam kitab Masaail Imam Ahmad hal. 276 mengatakan : “Saya mendengar Ahmad berkata : Setiap orang pendapatnya ada yang diterima dan ditolak, kecuali Nabi saw]

Maknanya setiap manusia itu harus ditimbang dengan kebenaran, dan bukan kebenaran itu harus ditimbang dengan tokoh.

Sehingga itu Imam Syafie berwasiat kepada kita dalam hal tersebut: “Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku”. [Ibnu Abi Hatim hal 93, Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir (15/9/2) dengan sanad shahih]

Kedua ialah dalam ucapan Imam Syafi’e sendiri dengan jelas mengisyaratkan kaedah penetapan Bid’ah Hasanah, iaitu sesuatu amal bid’ah Hasanah itu harus cocok dengan Al quran, hadith, atsar ataupun Ijma sahabat. Maka kalau ia menyelisihi pengukur vtersebut, maka amal itu dikira sebagai Bid’ah Dhalalah.

Baiklah, kita telah mendapat barometer dari Imam Syafi’e, lalu kita halakan kepada amal-amal bid’ah yang kita amalkan hari ini, ambil contoh kita namakn sebagai Zikir Jama’i. Maka bukankah amal itu menyalahi Atsar Ibn Mas’ud?

Kemudian kita halakan kepada berzanji, maulid nabi, dan seluruhnya, maka kita dapati bahawa ia menyalahi sunnah, atsar dan ijma sahabt sekaligus. Lalu apakah kita masih betah untuk mengamalkan bid’ah hasanah?

Ketiganya, ialah kita mohon kepada Imam Syafi’e untuk menunjukkan contoh bid’ah Hasanah yang beliau i’tiraf dan contoh bid’ah dhalalh yang beliau pahami. Adalah mustahil Imam yang menyusun ilmu Usul Fiqh dan Qawaid Fiqh secara sistematik seperti dalam Ar Risalah ini tidak menunjukkan sebarang contoh bid’ah Hasanah? Apakah ketika beliau terangkan kaedah pengukuran bid’ah diatas, beliau lupa untuk menunjukkan contoh-contoh bid;ah hasanah?

Baiklah, kalau beliau lupa, kita masih boleh melihat fatwa beliau sekitar larangan beliau terhadap sesuatu amalan.

Imam Syafi’e berkata mengenai zikir jama’i:

“Aku berpendapat baginda menguatkan suara (zikir) hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajarinya daripada baginda. Ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadang-kala riwayat menyebut baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut baginda pergi tanpa zikir. Umm Salamah pula menyebut duduknya baginda (selepas solat) tetapi tidak menyebut baginda berzikir secara kuat. Aku berpendapat baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara tidak kuat.

Jika seseorang berkata: “Seperti apa?”. Aku katakan, sepertimana baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana baginda berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua. Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika selepas kaum wanita pergi. Ini seperti apa yang Umm Salamah katakan. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya”. [al Syafi’i, Mausu‘at al-Imam al-Syafi’i: al-Umm ]

Maka kalaulah Imam Sya’ie yang menghurai Bid’ah Hasanah dan memberikan barometer kepada Bid’ah Hasanah, maka mengapakah dia tidak menamakan amal Zikir Jama’i dengan bid’ah hasanah, tetapi di atas beliau nyatakan bahawa melalui hadith-hadith yang beluai kumpul nyata bahawa Rasul berzikir setelah selesai solah Fardu, Baginda memperlahankan suaranya.

Kita masih ada banyak contoh larangan Imam Syafi’e terhadap amal bid’ah hasanah. Maka apakah yang kita boleh perolehi dari pengucapan beliau dan larangan beliau; iaitu bahawa apa yang beliau maksudkan hanyalah sebatas dari segi bahasa, dan bukan syara’. Malah barometer yang beliau letakkan itu satu bukti bahawa setiap amal harus punya dalil yang kokoh. Dan larangan-larangan beliau terhadap amal-bid’ah hasanah yang kita kita anggap baik hari ini juga sebagi hujjah menyangkal wujudnya bid’ah hasanah.

Keempat ialah pengertian yang dimaksudkan oleh Imam syafie ini dijelaskan lagi oleh imam sesudahnya, antaranya ialah Ibn Rajab:

“Maksud al-Syafi‘i rahimahullah ialah seperti yang kita sebutkan sebelum ini, bahawa Bid‘ah Mazmumah ialah apa yang tiada asal dari syariat untuk dirujuk kepadanya. Inilah bid‘ah pada istilah syarak. Adapun Bid‘ah Mahmudah ialah apa yang bertepatan dengan sunnah. Iaitu apa yang ada baginya asal untuk dirujuk kepadanya. Ia adalah bid‘ah dari segi bahasa, bukannya dari segi syarak kerana ia menepati sunnah”. [Ibn Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam] Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata:

“Maka bid‘ah pada ta’rifan syarak adalah dikeji. Ini berbeza dengan (maksud bid‘ah dari segi) bahasa di mana setiap yang diada-adakan tanpa sebarang contoh dinamakan bid‘ah sama ada dipuji ataupun dikeji” [Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari]

Kan lebih baik kita lihat pandangan Ibn Hajar dalam bab “Saidina”, Beliau ditanya:

““Apakah dalam ucapan selawat itu disyari’atkan menggunakan kata-kata Sayyid, seperti orang mengatakan “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad” atau “’ala sayyidina khalqi” atau “’ala sayyid waladi” atau hanya menggunakan kata-kata “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Manakah yang lebih baik daripada ucapan-ucapan itu? Apakah digunakan kata-kata sayyid atau tidak menggunakannya kerana tidak tersebut dalam hadis-hadis.”

Jawab al-Hafiz Ibnu Hajar:

“Benar, mengucapkan lafaz-lafaz selawat sebagaimana tersebut dalam riwayat hadis adalah yang benar. Janganlah sehingga ada orang yang mengatakan Nabi tidak menggunakan kata-kata sayyid dalam bacaan selawat hanya disebabkan sikap rendah diri (tawadhu’) sahaja sebagaimana juga tidak layak ketika orang mendengar disebut nama Nabi tidak menyahut dengan ucapan shalallahu ‘alaihi wasallam. Semua orang Islam dianjurkan untuk mengucapkan kata tersebut setiap kali mendengar sebutan nama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya (Ibnu Hajar) menyatakan bahawa sekiranya benar bahawa ucapan sayyid itu ada, niscaya disebutkan dalam riwayat dari sahabat dan tabi’in. Akan tetapi, saya (Ibnu Hajar) tidak menemukan adanya riwayat seperti itu dari seorang sahabat atau tabi’in pun, padahal begitu banyak cara bacaan selawat yang diterima dari mereka. Al-Syafi’i rahimahullah sebagai seorang yang sangat memuliakan Nabi shalallhu ‘alaihi wasallam juga tidak menyebutkan kata sayyidina dalam awal pembukaan (muqaddimah) kitabnya. Padahal al-Syafi’i adalah contoh ikutan para pengikut mazhabnya. Beliau (al-Syafi’i) hanya menyebutkan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”

Kemudian pembahagian yang sekana ini juga dilakukan oleh Izz Bin Abd Salam dalam Qawa‘id al-Ahkam fi Masalih al-Anam:

1- Bid’atun wajibah :Pekerjaan yang masuk dalam perkara wajib dan perintah agama seperti mengumpul dan menyusun mushaf Al-Quran.

2- Bid’atun mandubah :iaitu segala yang mendukung perkara sunat seperti mengerjakan solat terawih berjemaah.
3- Bid’atun mubahat :iaitu segala sesuatu yang menjurus hal-hal yang di bolehkan seperti menaiki kenderaan, makan bermeja dan memakai pakaian berfesyen yang berbagai tetapi menutup aurat.
4- Bid’atun makruh : Iaitu perkara yang membawa kepada makruh seperti banyak melakukan sembahyang sunat rawatib hingga solat wajib tertunda.
5- Bid’atun muharramah :Iaitu sesuatu hal yang menjurus perkara yang haram seperti menziarahi kubur orang mati dengan tujuan meminta sesuatu pertolongan atau mengerjakan amalan suluk hingga meninggalkan solat jumaat.

Bagaiman Izz bin Abd Salam meletakkan 5 pecahan? lalu ditemukan jawabannya dalam kitab yang sama, ketika beliau mendefinasikan kalimah bid’ah: “Bid‘ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah”.

Maka kita dapati bahawa ta’rif yang beliau lakukan ialah satu cakupan yang cukup luas, meliputi amal keagaman dan keduniaan, yang cakupan ini tidak pernah dilakukan oleh seluruh ulama’. Sehingga Imam As Syatibi berkata:

“Sesungguhnya pembahagian ini adalah sesuatu yang hanya direka, tidak ada dalil syar‘i yang menunjukkannya. Bahkan ia sendiri saling bercanggahan. Ini kerana hakikat bid‘ah ialah sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar‘i, sama ada daripada nas-nas syarak atau kaedah-kaedahnya. Kalau di sana ada dalil daripada syarak yang menunjukkan wajib, sunat, atau harus, maka itu bukanlah bid‘ah. Ia termasuk dalam keumuman amalan yang disuruh atau diberi pilihan. Mencampur aduk dalam menyenaraikan perkara-perkara tersebut adalah bid‘ah, iaitu mencampurkan antara perkara yang memiliki dalil yang menunjukkan kepada wajib, sunat atau harus dengan dua lagi (makruh dan haram) yang menyanggahinya. [Imam As Syatibi, Al I’tisam]

Walaubagaimana pun, setelah Izz Abd Salam menetapkan 5 jenis, maka kita harus melihat setiap contoh yang beliau utarakan. Ketika sampai kepada bid’ah Wajib, beliau berkata:

“Bagi bid‘ah wajib itu beberapa contoh, salah satu daripadanya ialah menyibukkan diri dengan ilmu nahu yang dengannya difahami kalam Allah (al-Qur’an) dan kalam Rasulullah saw(iaitu hadis).”

Imam As Syatibi berkata:

“Dengan ikatan ini maka terpisahlah (tidak dinamakan bid‘ah) segala yang jelas –walaupun bagi orang biasa – rekaan yang mempunyai kaitan dengan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din dan segala ilmu yang berkhidmat untuk syariat. Segala ilmu ini sekalipun tiada pada zaman yang awal tetapi asas-asasnya ada dalam syarak… Justeru itu tidak wajar sama sekali dinamakan ilmu nahu dan selainnya daripada ilmu lisan, ilmu usul atau apa yang menyerupainya yang terdiri daripada ilmu-ilmu yang berkhidmat untuk syariat sebagai bid‘ah. Sesiapa yang menamakannya bid‘ah, sama ada atas dasar majaz (bahasa) seperti ‘Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anh yang menamakan “bid‘ah” solat orang ramai pada malam-malam Ramadhan atau atas dasar kejahilan dalam membezakan sunnah dan bid‘ah, maka pendapatnya tidak boleh dikira dan dipegang”.

Apakah kita melihat ini satu hal rekaan baharu yang kalau kita tidak lakukannya kita akan mendapat azab dosa? Dan ketika beliau nyatakan contoh Bid’ah Mandubah: “mengerjakan solat terawih berjemaah”, maka bukankah kasus solat tarawih berjamaah telah dikupas sebelum ini?

Maka akhirnya kita dapati bahawa Imam Izz abd Salam juga telah melakukan pembahagian ini atas dasar bahasa, bukan syara’. Malah yang lebih menakjubkan ialah antara bid’ah yang dihpuskan oleh Izz Abd Salam ialah salam beramai-ramai setelah selesai solat yng dewasa ini menganggap bid’ah hasanah. Hal ini boleh dilihat dalam kitabnya Al Fatawa Irara Bin Abdissalam hal 46 no 15 Penbit Darul Bara.

Kemudian itu Imam Nawawi berkata dalam kitabnya Tahzib al-Asma` wa al-Lughat tentang penyetujuan beliau terhadap pembahagian bid’ah oleh Imam Syafi’e dan Imam Izz Abd Salam. Tetapi dalam tulisan beliau yang lain kita temukan bahawa beliau sendiri melarang amal bid’ah.

Seperti dalam kitab Al Azkar, beliau berkata:

“Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-Salaf al-Salih radhiallahu ‘anhum ialah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya.

Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad rahimahullah pernah berkata: “Berpegang dengan jalan petunjuk, jangan engkau tewas disebabkan sedikit yang melaluinya. Jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terpengaruh dengan banyaknya golongan yang rosak (yang melakukannya).”

Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damsyik, iaitu melanjutkan bacaan al-Quran dan bacaan yang lain ke atas jenazah dan bercakap perkara yang tiada kaitan, ini adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan dalam bab Adab al-Qiraah tentang keburukannya, besar keharamannya dan kefasikannnya bagi sesiapa yang mampu mengingkarinya tetapi tidak mengingkarinya”.

Dan dalam Majmu’ Syarah Al Muhazab, beliau berkata:

“Adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan manusia kepadanya [kenduri / makanan tadi] adalah tidak dinaqalkan dari Nabi sedikut pun dan ia adalah bid’ah yang tidak disukai”.

Kemudian dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi berkata:

“Sesungguhnya yang menjadi sunnah bagi salam dalam solat ialah dengan berkata: السلام عليكم ورحمة الله sebelah kanan, السلام عليكم ورحمة الله sebelah kiri. Tidak disunatkan menambah وبركاته. Sekalipun ia ada disebut dalam hadith dhaif dan diisyaratkan oleh sebahagian ulama. Namun ia adalah satu bid‘ah kerana tidak ada hadith yang sahih (yang menganjurkannya). Bahkan yang sahih dalam hadith ini dan selainnya ialah meninggalkan tambahan itu.”

Kemudian al-Imam al-Sayuti (السيوطي) berkata dalam al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida’:

“Bid‘ah Hasanah disepakati keharusan membuatnya. Juga disunatkan demi mengharapkan pahala bagi sesiapa yang baik niatnya. Iaitu setiap pembuatan bid‘ah yang bertepatan dengan kaidah-kaidah syarak tanpa menyanggahinya sedikit pun. Perbuatannya tidak menyebabkan larangan syarak. Ini seperti membina mimbar, benteng pertahanan, sekolah, rumah (singgahan) musafir dan sebagainya yang terdiri dari jenis-jenis kebaikan yang tidak ada pada zaman awal Islam. Ini kerana ia bertepatan dengan apa yang dibawa oleh syariat yang memerintahkan membuat yang ma’ruf, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa”.

Maka kita lihat apakah contoh bid’ah Dhalalh yang beliau nyatakan:

“Daripada bid‘ah (yang saiyyah) itu adalah, was-was dalam niat solat. Itu bukan daripada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat baginda. Mereka tidak pernah melafaz sedikit pun niat solat melainkan hanya (terus) takbir. Allah telah berfirman:” “Sesungguhnya bagi kamu pada Rasulullah itu contoh yang baik”. [al-Ahzab 33:21]

Maka dapat kita ketahui bahawa para ulama yang membolehkan bid’ah hasanah hanyalah bermaksud dengan makna bahasa semata-mata.

Kesimpulan Makna Bid’ah dan Sunnah

Maka makna sunnah itu ialah sesuatu jalan dalam meniti hidup beragama yang telah Rasul dan juga para sahabat baginda yang diberi petunjuk tempuhi. Mak mengamalkan pedoman ini berupa bergepegang tenguh kepada sunnah.

Sementara itu bid’ah adalah sesuatu hal baharu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul dan sahabat baginda, yang dilakukan atas nama agama, pembuatnya berniat untuk meraih pahala.

Dan pembahagian bid’ah kepada 2 jenis atau 5 jenis hanyalah diberlakukan dari segi bahasa, sedangkan dari segi syara’, maka setiap bid’ah adalah kesesatan.

Siapa Ahlus Sunnah?

Setelah kita memahami makna sunnah dan bid’ah, barulah kita boleh melanjutkan perbicaraan; iaitu yang pertamanya ialah Siapakah Ahlus Sunnah?

Maknanya adalah seorang Ahlus Sunnah itu adalah manusia yang berpegang teguh dengan pemahaman Rasul dan menempuh jalannya baginda, tanpa berbelok-belok, dan tanpa melakukan amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah.

Bererti juga bahawa mereka adalah satu kaum yang mengenal amal yang ditunjukkan oleh Rasul dan mereka beristiqamah pada jalan yang telah Rasul bentangkan. Seperti mereka itu mengenal setiap apa yang masuk ke dalam perut mereka, begitulah mereka mengenal sunnah Rasulullah dan memperjuangkan sunnah tersebut.

Justeru, kalau ada satu kaum yang melakukan amal bid’ah maka maka secara pasti mereka telah menyalahi sunnah, kerna sunnah adalah lawan kepada bid’ah. Begitu juga barangsiapa yang mengamalkan sunnah maka dia telah meninggalkan bid’ah.

Lalu kita tanyakan kepada diri kita yang selalu menyakini sebagai Ahlus Sunnah: “Apakh ketika datang satu dalil yang menunjukkan amal kita tidak mengikut seperti amal Nabi, kita terus meninggalkan amal itu dan berpegang teguh kepada hadith? Atau kita palingkan setiap hadith itu dengan logika kita dan kita susupkan ia dengan prasangka?”

Maka Imam Malik menjawab dengan firman Allah.”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [An-Nuur : 63]

Diriwayatkan dari Ibnu Wahb, ia berkata: Imam Malik mengatakan : “Suatu fatwa yang telah difatwakan kepada manusia maka tak satupun manusia boleh mengatakan: “Mengapa engkau berfatwa seperti ini”, melainkan cukup bagi mereka saat itu untuk mengetahui riwayat dan mereka rela dengan riwayat (hadits) itu”.

[Miftahul Jannah fii Al-Ihtijaj bi As-Sunnah oleh Al-Hafizh Al-Imam As-Suyuthi]

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: