Kaedah Membantah Salafi a.k.a Wahhabi Secara Ilmiyah

Kepada para ilmuan, para pelajar, dan teman-teman yang antusias kepada agama, andai melihat pemikiran saya dan keimanan saya menyalahi kebenaran, maka haruslah kalian berusaha untuk meluruskan saya. Kalau tidak, nanti saya akan mengadu dihadapa Rabb Azza wa Jallah bahawa kalian tidak mau menolong hamba-Nya ini dalam meniti jalan kebenaran.

Tetapi, harus diingat, bahawa saya tidak akan beriman dan beramal dengan khabar burung, ataupun bergantung pada ranting yang rapuh. Makanya tuan-tuan sekelian haruslah berusaha untuk membawakan hujjah yang kuat, berupa basirah yang gamblang, ibarat mentari yang tidak dapat ditutupi lagi.

Kerna Allah telah memerintahkan kepada Muhammad saw untuk membawakan hujjah yang gamblang – basirah dalam menyeru manusia kepada Islam:

“Qul: haa zihi sabiilih, ad’u illallah ‘ala basirah” [artinya “Katakanlah (wahai Muhammad – ketika kau menyeru manusia): Ini jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan hujjah yang kokoh”]

Inilah kaedah yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw, kemudian diteruskan oleh sahabat dan kemudian generasi sesudah itu. Dan juga para Aimmah umat ini.

Lihatlah kitab bantahan mereka kepada kaum yang sesat, seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah;

Imam Ahmad – Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Az-Zanadiqah
Imam Bukhari – Radd ‘Alal Jahmiyyah
Imam Asya’ari – Al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’

Maknanya kalian harus punya kaedah membantah secara ilmiah, dan jujur, tidak sembarono dan tidak berlaku curang dalam penukilan sumber.

Lalu saya meletakkan kaedah yang bisa semua manusia mendapat pengertian hakikat dari sebuah “bantahan ilmiah”. Saya telah menulis pada Mac 2008 dengan tajuk “Kaedah Menuju Jalan Kebenaran” kaedah umum tersebut iaitu;

Akhirnya saya menggariskan 3 kaedah yang boleh digunapakai bagi mengukur kebenaran dalam pemahaman.

1)
Pemahaman kita itu harus bersumberkan hujjah yang akurat. Kalau dalam arti religus, maka ia bersumberkan dari 2 sumur iaitu al kitab dan al hadith yang sahih. Maknanya ialah setiap alasan kita untuk menetapkan sesuatu harus ada dalilnya. “ini dalilnya…” bagi keyakinan kita.

2)
Setelah diberangi dengan 2 sumber tadi, kita harus buktikan bahwa paham kita itu telah dianut oleh para pendahulu kita, sedari pendiri mazhab 4, para imam hadith, para sahabat. Andai paham itu baru muncul dan mereka tak sempat menganutnya, maka beratri paham kita itu adalah sesuatu yang tidak benar.

3)
Kita akhirnya harus membuktikan bahawa tuduhan yang dikenakan kepada kita oleh sang penuduh adalah berupa tuduhan palsu yang tak dibina diatas dasar ilmu. Dan buktikan juga bahawapaham-paham lain yang berseberangan dengan kita tidak berpijak pada hujjah yang benar.

Akhirnya setelah selesai kita menjalankan 3 kaedah tadi, maka kita akan berhasil melihat kebenaran. apakah benar itu dipihak kita atau dipihal lain. Kalau dipihak lain, maka kita harus menurutinya tanpa rasa sesal dan gundah serta tanpa rasa payah.

[Kaedah Menuju Jalan Kebenaran, www.tinjau.wordpress.com]

Ini adalah satu kaedah umum bagi menilai kebenaran. Justeru kalau dicermati dalam kaedah diatas, kita bisa lagi perhalusinya agar syubhat-syubhat yang lain tidak akan muncul dan keragun bisa sirna.

Kalian harus menulis sebuah bantahan yang semampunya kalian agar saya tidak ada celah untuk membantah kalian kembali, dan hujjah yang kalian guna itu haruslah kuat makna matannya dan sah dari sanadnya. Ia seperti bicara kaum Hizbu Tahrir, iaitu harus Qat’i ad Dilalah dan Qat’i At Tsubut.

Untuk menuju kepada hal tersebut, kalian harus:

[1]. Menerangkan kebatilan setiap hujjah yang digunapakai oleh Salafi tanpa tersisa.

[2]. Tidak menggunakan dalil ‘am ketika membantah dalil khusus yang Salafi gunakan.

[3]. Mendhaifkan setiap hadith, atau atsar, atau riwayat yang Salafi gunakan sebagai alasan.

[4]. Setelah mendhaifkan dalil kami, maka kalian bawakan dalil yang sebenar.

[5]. Atau kalian menerangkan kontradiksi antara dalil kalian dan dalil kami andai kalian tidak bisa mendhaifkan dalil kami.

[6]. Kalian bawakan ucapan Rasul, atau sahabat, atau tabi’in dan barulah Imam Mu’tabar dan para ulama Salaf as Soleh [yang kami dan kalian bersepakat ke-ilmuan mereka] dalam masalah tersebut. Dalil tersebut harus sah dari ilmu mustalah hadith.

[7]. Ketahuilah bahawa kami tidak menjadikan logika sebagai pemutus, maka jangan bawakan hujjah logika. Akal adalah alat mengukur kebenaran, bukan sumber kebenaran.

[8]. Terakhir [sebenarnya adalah yang paling utama] adalah Sumber Kebenaran itu [iaitu hujjah] hanya dari Al Quran, As Sunnah, dan Pemahaman Sahabat.

Maka seandainya kalian bisa menggunakan metoda ini dalam membantah Salafi, nescaya kalian akan lihat kami berbondong-bondong meninggalkan Salafi dan mengikuti kalian. Tetapi andai kalian tidak bisa menggunakan metoda ini, maka kalian harus sadar bahawa kalian berpijak pada jalan yang tiada hujjah, malah kejahilan menguasai kalian dan mungkin-mungkin kalian akan terpesong dari hakikat. Lalu kalian harus kembali dan mengikuti Salafi.

Lalu, bagaiman? Mau membantah secara ilmuah atau mau terus-terusan berbicara seperi khabar burung dan warung kopi?

Terserahlah kepada kalian yang mengaku Benar, dan berpijak kepada Kebenaran dan sebagai Golongan Ahlus Sunnah yang Hakiki.

Label:

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: