Nakhoda Lautan Fatal – Imam Samudera

amrozi

 

Mati ditembak di jantung lalu banyak orang ingatkan dia syahid!

Kemudian jasadnya diratapi dan dikalungkan dengan pujian. Berteriaklah mereka “hari ini telah pergi jiwa yang mulya – khalifah syahid. Gugur kerna sebuah kebenaran, dan kebatilan telah berleluasa tapi kebenaran akan tetap diatas kerna cahaya di atas cahaya”. Lalu dia diusung ke kuburan dengan tangan-tangan tanpa perlukan sebuah mobil mayat pun!

Lihatlah! Ini bukti dia tidak berdosa! Tuhan telah nyatakan bahwa akhir kematian seseorang insan adalah bukti kepada kehidupannya. Apakah mungkin seorang yang berjuang hingga merelakan jiwanya hapus bisa kita katakan dia sesat? Ini satu yang gila.

Kerna itu, pembunuhan yang dia lakukan, itu tidak bisa dinamakan sebagai “pembunuhan”, tetapi adalah sebuah “pembersihan” noda hitam dari melekati manusia lain. Ia ibarat membasni waabak dari menjangkiti manusia yang sihat, agar yang sakit itu sedikit dan yang siikat terus sihat. Malah dengan pembasmian ini kemungkinan manusia yang sakit akan tersadar dan terus sembuh dari ketagihan maksiat.

Makanya, memang sesuailah dia denga gelar Imam, imam Samudera! Manusia yang mengepalai kapal di tengah lautan gelora, yang menunjukkan jalan ke daratan. Seperti seorang Rasul lah gayanya.

Tetapi, apakah benar dia benar? Atau kebenaran yang ditanggapi olehnya dan pengikutnya adlah sebuah fatamorgana? Kerna yang beriman sebegitu hanya dia dan pengikut-pengikutnya walhal dia tidaklah berpijak pada hujjah yang akurat.

Nanti ketika Paus Biara Ventikan meninggal, pasti jumlah manusia yang meratapinya lebih banyak dari manusia yang menghormati Imam Samudera. Lalu apakah Paus lebih benar dari sang Imam?

Begitu juga, apakah manusia itu senang-senang sajaa digelar “Syahid”? Padahal Imam Bukhari telah bawakan hadith-hadith yang membantah hal demikian.

Kita tanyakan kembali kepada dia, datangkan hujjah yang membenarkan seorang rakyat menjalankan hukuman tanpa mendapatkan wewenang dari aparat atau sultan? Sebutkan satu sirah dimana ada sahabat yang menjalankan hukuman kepada manusia tanpa mendapatkan titah dari Khalifah, walaupun dia mengerti nanti khalifah tetap akan memancung manusia yang bersalah itu. Apa bedanya pelaku itu mati awal sehari atau sejam sebelum hukuman pancung dari khalifah, kerna pengakhirannya tetap MATI. Malah kebijakannya untuk memancung pesalah lebih awal itu berupa langkah hikmah agar masyarakat tidak akan terlihak kelakuan jahatnya dan tak sempat mempengaruhi minda rakyat.

Tetapi yang nyata mengapa tiada kelaluan sebegitu muncul dari sekian banyak sahabata? Kerna sahabat bukanlah penjalan hukum, tetapi sebagai rakyat sahaja. Semuanya berlaku lantaran para murid Rasulullah menerti bahawa tugas menjalankan hukum dan menegakkan keadilan itu hanyalaah dipundaki oleh Khalifah semata-mata. Sehinggakan ada hadith yang membolehkan dipenggal leher manusia seandainya dia mengklaim dirinya sebagai Khalifah saat khalifah kaum muslimin berkuasa.

Maka itu kita tanyakan kepada Imaam Samudera, kapan dia mendapat kebenaran dari penguasa Ripublik Indonesia untuk membunuh manusia. Padahal ketika perang berlangsung, seorang sahabat yang berjaya menjatuhkan lawannya lalu ketika itu sang kafir itu mengucapkan syahadah namun dia tetap dirodok pedang sahabata, maka Rasulullah berkata kepada sahabat itu dengan nada yang tinggi “Kau pembunuh! Apakah kau bisa merobek hatinya dan melihat hatinya”. Akhirnya sahabat itu mengerti bahawa soal hati bukanlah bicaranya manusia, ia adalah urusan Tuhan. Dia menyesali tindakannya membunuh lawannya atas pikiran bahawa pengucapan syahadah itu dibikin atas rasa takut dibunuh dengan pedang. Dia fikir mansuai itu munafik dan berlindung dengan perisai Syahadah. Namun pikirannya meleset. Akhirnya dia sadar. Dan tuhan mengampunkannya.

Lalu seandainya Imam samudera bisa membaca hati-hati manusia yang di bunuh, ya silakan lah membunuh. Tetapi yang nyata Sahabat yang dipuji oleh Al Kitab sahaja tidak bisa mentabrak hati manusiaa, inikan pula Imam Samudera.

Kemudiannya apakaha dia tak mengerti bagaimana kisah pencuri yang ditangkap oleh Khalifah Umar al Khatab lalu dibebaskannya? Apa yang membuatkana Khalifah tidak menjatuhkan hukuman potong tangan? Apakah lelaki itu merasuah Khalifah? Atau khalifah curang dari menjalankan hukuman Tuhan? Atau ada sebab lain yang membuatkan hukuman potong tangan terangkat dari dikenakan keatas lelaki itu?

Justeru jiwa manusia bukan semudah membunuh nyamuk; ditampar apabila ia mengetik dan menghisap darah!  Jiwa manusia itu harus ditimbang dengan adil, tak gopoh dan samberono. Ia harus diadili dengan saksama. Lalu dimakah Imam Samudera membicarakan tiap-tiap jiwa yang dia bunuh? Kapan? Dimana? Siapa peguamcaranya dan siapa pula peguambelanya? Tidak ada!

Tapi mungkin dia akan berhelah: “Saat ini, kerajaan tidak mengakkan hukum Islam, maka tanggungjawab untuk menegakkan keadilan dipikul oleh kami – pejuang Islam”.

Baiklah kalau itu sanggahan sang Imam, kita tanyakan kepada dia, kaedah ini kalain ambil dari mana? Dari kitab mana? Dari bicara Imam Madzhab mana? Dari fatwa para Syeikh mujtahid mana? Atau fatwa ini hanya baru muncul sahaja?

Nah, kelihatannya penyakit radikal Imam Samudera makin ditelanjangi.

Seterusnya kita mau tanyakan kepada 3 “ustaz” yang dihukum mati ini; Apakah jiwa para duta dan para rakyat negara kaffir yang menjalinkan hubungan dengan negara kita, bahwa jiwa mereka adalah milik kita? Apakah kita bisa dibuat sesuka hati kita atau tidak? Dan kalaulah Imam dan teman-teman nya itu berkata bahwa para duta dan rakyat negara kaffir yang memiliki kedutaan di negara muslim; jiwanya halal dibunuh, maka kita minta keterangan dari al kitab, al hadith, atsar, dan sirah.

Dan untuk pengetahuan Imam, dalam hal bermuamalah dengan kaum kafir, para imam telah menjelaskan satu bab khusus untuk menceritakan hal-hal para duta dan para pelawata dari negara yang menjalinkan hubungan dengan negara Islam. Mungkin elok kiranya para pengikut Imam membacanya agar tersingkaplah kekeliruan.

Maka, bagaimana Imam ini bisa melakukan hal yang begitu haram iaitu membunuh jiwa tanpa ada keterangan yang kokoh dan pembunuhan itu disandarkan kepada Islam? Semuanya berlaku kerna mereka ini tidak mengikuti jalan pikir para sahabat.

Sebentar! Bukankah mereka juga membaca al kitab dan meneliti as sunnah?

Benar! Semua manusia muslim berkata begitu. Tapi mengapakah wujud manusia seperti Imam Samudera? Ini kerna al kitab dan as sunnah hanyalah berupa teks yang baku [baca: bukan beku atau sejuk] yang bisa dipahami atau ditafsir dengan banyak jalan pikir. Sehinggakan setiap jalan pikir itu menghasilkan natijah yang berbeza sekali. Justeru bagaimana jalan pikir yang dikehendaki oleh Allah? Jawabannya hanya saatu, iaitu jalan pikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Sebenarnya aRasul bukan sekadar menyampaikan Al Kitan dan mengajarkan As Sunnah, tetapi dia juga mengajarkan jalan pikir bagi memahami kedua sumber tadi.

Lalu apabila ditimbang kelakuan Imam Samudera denagn jalan pikir yang Rasul sampaikan, nyata bahawa dia [Imam Samudera] bukanlah pembimbing manusia, dan bia bukan lah nakhoda kapal yang menuju dataran selamat, melainkan dia Nakhoda Lautan Fatal.

Untuk akhirnya, persoalan kemana dia akan pergi setelah ini, itu urusan Allah. Yang nyata kelakukannya sebelum dia mati dan keimanannya sebelum dia ditembak; bisa kita katakan pemikiran dan kelakuan yang durjana, yang tidak menurut kehendak Islam. Ya, kita membenci pemikiran dan kelakuannya sahaja, bukan batang tubuhnya. Hak nya sebagai seorang Muslim masih ada dan harus ditunaikan, walaupun dia di masa hayatnya tidak menghiraukan hak muslim yang bermaksiat.

Label: , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: