Disebalik Pembunuhan Nabi

 

tali_gantung

  

Kenapa para nabi selalu diancam bunuh dan memang banyak dari mereka yang telah mati dibunuh?

Hal pembunuhan nabi sudah kita maklumi secara mahsyur. Terlalu banyak catatan dalam al Quran atau pun Injil. Ia adalah satu pengetahuan yang tidak dapat dinafikan lagi oleh manusia yang beriman kepada Allah.

Sejak Nuh as diangkat menjadi Rasul pertama hinggalah sekitar 1500 tahun yang silam, cobaan demi cobaan untuk menamatkan denyut jantung para nabi terus berlaku. Rencana ini diatur dengan rapi hingga banyak dari para utusan Tuhan Allah gugur, contoh Zakaria yang digergaji.

Ironinya yang banyak gugur adalah dari kalangan Bangsa Yahudi. Namun ia bukan tandaan bahawa bangsa lain tidak membunuh dan memusuhi nabi-nabi mereka, cuma Tuhan Allah menyinggung perihal Bangsa yang satu ini lebih ketimbang bangsa lain kerna didalam hayat bangsa ini terdapat banyak pelajaran yang bisa seluruh manusia pikirkan.

Walaupun manusia merencana untuk menghapuskan para utusan Allah yang selalu membacakan firman-firman-Nya, dan selalu juga menjalankan rencana tersebut hingga sukses, namun Tuhan Allah terus menerus mengutus nabi-nabi baru agar perkataan Dia selalu didengar oleh manusia.

Justru pembunuhan ke atas para nabi akan terus berlaku berkadaran langsung dengan seringnya Tuhan mengutuskan nabi-Nya. Lalu kita hairan mengapa umat manusia tak lelah untuk membunuh para Nabi dan Rasul?

Kita bisa mengandaikan bahwa mereka memenggal leher nabi kerna perasaan benci kepada ajaran baharu yang bisa menolak amalan tradisi mereka selama ini. Juga kerna para nabi selalu menasihati mereka dari tidak berbuat syirik dan maksiat sehingga mereka terasa terganggu.

Bayangkan bukankah melecehkan saat melakukan sujud kepada patung lalu datang seorang nabi dan berceramah kepada mereka? Dan lebih memenatkan bila usia sudah tua bangka tetapi masih dikatakan silap dalam beragama. Oleh itu seruan nabi itu dikira sebagai “mengganggu ketenteraman awam” dan bisa menghancurkan keharmonian negara.

Bagaimana tidak menganggu ketenteraman awam dengan khutbah-khutbah dan nasihat yang membingitkan telinga dan ajaran-ajarana yang menjauhkan manusia dari aturan tradisi nenek moyang? Bukankah itu satu ganguan? Kemudiannya bila sang nabi punya pengikut maka nanti mereka beramai-ramai akan berkhutbah kepada rakyat sehingga ia boleh meletakkan negara dalam kacau bilau. Pengikut nabi ini akan mengajarakan kepada masyarakat tentang kesyirikan dan kebid’ahan. Lalu umat tergempar dengan tuduhan ini dan mula bertempiaraan lari kerna histeria dengan kalimat “syirik” dan “bid’ah”. Dan terkenallah nabi dan pengikutnya sebagai golongan yang suka mensyirikkan dan menbid’ahkan manusia. Seolah-olah nabi ini berkata kepada seluruh manusia: “Hey, kalian semua telah sesat dan akan masuk neraka, namun kalian bisa lepas dengan mengikuti ajaraan baru aku”. 

Justeru untuk menamatkan kegoncangan ini maka hayat sang nabi itu harus dilupuskan. Sedang pengikut-pengikutnya cukup dihalau negeri sahaja atau dikucilkan dalam kamar penjara. Difikirkan kerna ajaran yang suka menyesatkan masyarakat ini akan lumpuh kiranya nabi mereka dibunuh.

Tetapi sadarkah kita bahwa hal itu bukanlah alasan perkasa atau tujuan utama hati mereka. Mereka tiada masalah kalau mengurung nabi, atau menghantarkannya ke pulau tak berpenghuni. Seperti sebelumnya mereka katakan bahwa nabi itu manusia yang senteng akalnya. Tetapi apa yang mendorong mereka untuk meletak kan titik noktah para detak nafas sang nabi?

Semuanya kerna mereka tidak dapat menegakakan hujjah dihadapan sang nabi kala nabi membantah agrumentasi mereka.

Tewas pada hujjah dan terjelepuk ketika diminta bukti adalah satu kekalahan yang amat besar bagi manusia yang punya akal. Ia lebih perit dan sengsara dari ditikam di hulu jantung atau digempur dalam peperangan melawan musuh. Kerna tewas di medan perang boleh punya alasan; sama ada kekurangan soldadu, atau kekuatan musuh lipat kali ganda, atau senjata kita tak bisa menandingi senjata musuh.

Tetapi tewas dalam beragrumentasi tiada alasan yang bisa dipakai untuk melegakan jiwa yang tumpas; apakah musuh Tuhan itu akan bilang kepada masyarakat yang melihat mereka tewas: “Mereka punya kecekapan berhujjah yang lebih dan punya banyak kaedah mematahkan hujjah lawan”, atau “Kau punya akal lebih dari kami sehingga kami bungkap”, atau bisa juga “alasan / hujjah kau banyak ketimbang kami”. Yang semua alasan ini memberi satu gambaran bahawa Nabi adalah benar dan mereka adalah salah.

Jadinya sebagai langkah selamat dari dimalukan kerna memiliki otak yang tumpul dan tersingkap kedegilan-kebodohan serta terserlah kesesatan-kebid’ahan yang terpenuh dalam diri mereka, dan terbukti kebenaran itu berpihak kepada sang utusan, maka nabi itu harus ditikam atau dipenggal supaya nanti setelah itu dia tidak lagi bisa beragrumentasi dan mereka sudah tak tewas dalam menegakkan hujjah!

Setelah wafatnya nabi, bermakna wahyu telah terhenti buat seketika. Dan bermakna juga bahawa tiada manusia yang bisa membantah pikiran bodoh mereka dan amalan nenek moyang mereka lagi, dan tiada siapa lagi yang bisa memalukan mereka.

Lalu mereka berasa selamat kerna amalan yang penuh kesyirikan dan kebid’ahan itu akan terus dianggap amal soleh oleh masyarakat yang tidak mengerti hal-hal religus.

Inilah matlamat utama mereka: supaya status quo mereka berlangsung dan mereka tak tewas lagi dalam berhujjah. Bermakna juga mereka tak akan kelihatan bodoh dihadapan masyarakat.

Jadi apakah sekarang ini telah selesai zaman pembunuhan?

Tidak! Setelah pengakhiran zaman pengutusan Nabi dan Rasul, para musuh kepada Islam tidakah bermakna telah habis sesuai dengan sifir “wujud nabi maka wujud setan” yang kita coba bawakan diatas tadi, kerna para manusia yang memusuhi agama dan ajaran suci ini pasti akan ada hingga akhir hayat makhluk.

Walaupun nabi sudah tiada tetapi ajarannya ini disambung oleh pengikut beliau, kemudian setelah wafatnya pengikut iaitu murid baginda, ajaran ini diteruskan oleh murid kepada murid baginda. Dan seterusnya ajaran ini berlangsung hingga saat ini dan hingga kiamat. Lalu ini juga bermakna bahawa para “setan” dan kaum yang memusuhi “intelektualisme” akan turut ada dan akan merencana menghapuskan riwayat penyambung ajaran ini.

Jadi di Zaman ini, para pondokius sedang berusaha keras untuk memadam bicara kaum Salafi: seperti tohmahan kepada nabi juga yang dilontarkan kepada kaum salafi. Hampir sama. Dibunuh, diburu, dipenjara, dikatakan gila, diklaim sesat, ditancapkan sebagi pemecah-belah umat.

Tetapi apabila salafi meminta burhan [hujjah] dari paraa pondokius ini, mereka terduduk kaku, kelu lidah – mata buntang. Mereka terpukul dengan nash yang dipakai oleh salafi hingga bungkam jiwa mereka.

Namun sesuai dengan peredaran zaman yang semakin canggh ini terutamanya setelah manusia dikatakn sudah boleh ke bulan, mereka ini boleh dikatakan agak ligat otak, lalu mereka pun mengungkapkan dalil-dalil yang palsu, serta tuduhan-tuduhan dusta, yang semua ini dihasilkan agar mereka kelihatan berada di atas kebenaran dan masyarakat tak melihat mereka kaum “sano” iaitu bodoh.

Apakah manusia yang intelek bisa menerima hujjah mereka seperti “banyak buku telah diselewengkan oleh kaum wahhabi, termasuklah shahihain!”, atau seperti ini “hadith-hadith yang membolehkan amal ini ada tetapi telah tenggelam dalam sungai ketika Tartar menyerbu Baghdad”. Ini satu alasan yang hanya dikeluarkan oleh otak yang tak pernah berfikir.

Namun ada yang bijak sedikit dari mereka semua ini, seperti Hasan As Saqaf, yang suka bermain dengan kualiti hadith. Ini lantaran dia mengerti bahawa senjata utama Salafi ada 3 iaitu [1] al Quran, [2] As Sunnah,  Atsar, yang kesemua ini [3] dipahami dengan cara pikir para murid Muhammad saw. Lalu dia menggunakan senjata yang sama tetapi dimuslihatkannya. Bagaimana caranya? Nah, dia bisa saja menshahihkan hadith-haadith yang dhaif agar aqidah dan amalnya dinilai benar andai manusia menggunakan hadith yang telah dia shahihkan.

Tetapi seperti lazimnya, para penentang ajaran yang tulen akan dihadapi dan dihabisi oleh kaum Salafi. Tiap-tiap kesalahan mereka didedahkan dan diperbetulkan sehingga mereka tak ada satu alasan lagi untuk menegakkan aqidah dan ibadah mereka di hadapan seorang yang ilmuan.

Kerna kebenaran akan terus diatas kebatilan. Cahaya diatas cahaya – inilah kebenaran.

Label:

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: