Khinzirisme Satu Kata Sosiologi

“Babi”

Opss…

Mulut saya terpacul perkatan ini!

Saya tidak perlu menyamak mulut ketika menyebut frasa “babi” ini walau ia jijik dan meloyakan. Semua orang bersetuju. Namun kalau saya memegang babi ini – apakah yang masih kemerah-merahan dan berdenyut kulitnya atau yang sudah menjadi kelabu dan dingin – akan ada orang yang menyerkup tangan saya lalu menyamaknya. Disana ada juga orang yang berpandangan bahwa hal menyentuh babi tidak mengapa, tak harus disamak.

Maknanya ada orang yang melarang menyentuh babi dan anjing, kalau disentuh atau tersentuh maka harus dicuci 7 kali termasuk air tanah. Sebaliknya ada orang yang tak beranggapan begitu.

Saya secara peribadi – dibantu dengan sejumlah dalil yang saya imani cukup akurat dan kuat – beriman bahwa harus saja kita untuk memakai kasut kulit babi, kerna dalil yang benar2 gamblang [terang] menunjukkan hukum pengharaman dan samak terhadap kulit babi dan anjing tiada. Yang ada hanyalah dalil yang menjurus kepada samak tempat makanan atau minuman yang dijilat oleh anjing / babi.

Lalu, satu persoalan yang amat mendatar, yang selalu menyerkup minda dan hati kita [seperti akan ada orang yang mahu menyerkup tangan saya tadi]: Apa yang membuatkan babi itu begitu digeruni dan dinajiskan, hingga menyentuhpun adalah terlarang, malah menyebutkannya juga adalah berupa carutan dan penghinaan?”

Jawabannya adalah mudah!

Ini kerna Tuhan telah mengharamkan Babi untuk dimakan, pengharaman secar pasti [qat’i] ketimbang haiwan-haiwan lain seperti kucing dan burung Murai.

Allah telah mengharamkan kita untuk menjamah babi dan segala kandungannya.

” Sesungguhnya Allah mengharamkan kepadamu bangkai, darah dan daging babi.” (Al-Baqarah, 173)

Justeru, kejelasan Al Quran yang khusus menyebut Babi ini adalah satu petanda bahwa haiwan ini merupakan makhluk yang dipesan keras oleh Tuhan agar kita tidak memakannya. Menjauhinya. Mengelakkannya.

Kemudian Allah juga mengingatkan kita agar kita tidak mengikuti tabiat babi ini dalam berperwatakan, malah jangan sekali-kali kita menjadi Babi secar hakiki. Sepertimana yang Tuhan telah jelmakan dari sekelompok bangsa Yahudi zaman bahari:

Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka yang dijadikan kera dan babi dan menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 60)

Kata Ibn Abbas, ia mengenai nelayan Yahudi yang melanggar Hari Sabbath, lalu mereka ditukar menjadi kera dan babi. Yahudi yang muda menjadi kera dan Yahudi tua menjadi babi. Tapi mereka cuma hidup selama 3 atau 6 hari sahaja. Ini bisa dilihat dalam  al Jami’ li Ahkamil Quran karya Al Qurthubi.

Nelayan Yahudi ini mengerti larangan menangkap ikan pada hari tersebut tetapi mereka menggunakan aqal dan dalih agar mereka bisa lolos dari pelarangan agama. Mereka seperti mahu mendustakan Allah dan Rasul serta para salaf mereka dengan mengemukankan alasan dari ayat-ayat agama dan logika mereka, walhal alasan mereka itu adalah satu kedustaan yang bertujuan untuk memuaskan hawa dan nafsu semata-mata. Lalu Allah menjelmakan mereka menjadi mahkuk yang terhina dan sesat dari jalan lurus.

Lihatlah bahwa bagaiman Allah gambarkan kepada kita, bahwa penjelmaan Babi itu merupakan satu penjelmaan peringkat yang paling hina dalam segala makhluknya.

Kerna kita harus sadar bahawa kejadian makhluk itu bertingkat-tingkat; ada yang paling baik ciptaannya dan ada yang pertengahan dan ada yang paling rendah ciptaannya. Dan sesungguhnya sebaik-baik ciptaan Allah adalah Manusia.

Menjadi babi adalah sehina penghinan yang Allah timpakan kepada manusia. Lalu Allah katakan kepada kita melalui Al Kitab; Janganlah manusia menjadi Babi atau menjadi seperti Babi, kelak akan Aku jadikan kalian benar-benar seekor Babi.

Lalu ketikamana Allah merendahkan manusia kepada martabat yang paling terbawah, ini menunjukkan bahawa Allah memberi peringatan kepada kita agar jangan memusihi kebenaran dan jangan menjadi seperti umat terdahulu; mendustai hakikat dan memusuhinya.

Allah bisa saja menjadikan kita sebagai haiwan laut; ikan paus, atau tapak sulaiman, atau belut letrik. Begitu juga Allah bisa saja menukar kita menjadi haiwan burung seperti ayam, atau terkukur, atau helang, atau hering. Tapi Allah tetap mahu menjadikan kita seperti Keldai, atau Kera dan paling hina adalah Babi.

Ini kerna babi itu punya tabiat yang amat dahsat.

Berak babi itu menyamai 10 orang beraknya seorang manusia. Lihatlah bagaimana babi makan; dia makan apa saja – sampah – benda basi hatta  najis! Asalkan dia kenyang. Lalu sudah pasti jumlah najisnya juga banyak.

Kemudian setelah selesai makan maka dia pun bersenang-senang dalam kubangan najis dan lumpur, sambil-sambil muncungnya menyondol babi lain. Berkubang berlama-lama sampailah dia ketiduran. Kemudian bangun lalu makan kembali dan berkubang kembali. Dan berak juga.

Lalu kalau waktu itu nafsu si jantan membuak-buak maka terus saja dia menerkam babi betina dan kemudian 2 ekor babi inipun melakukan hubungan intim – asmara sambil berbunyi-bunyi; dan babi-babi lain melihatnya bagaikan pertunjukan tigershow!

Malah kalau babi lain yang sedang melihat aksi itu terasa gian, dia boleh turut serta dan berlakulan cinta 3 segi. Sebenarnya cinta babi tidak berhenti pada 3 segi sahaja, malah cinta dikalangan mereka itu seginya banyak, tak terhitung jumlahnya. Inilah pesta seks.

Ini sosiologi babi yang amat mengujakan para peneliti tabiat haiwan.

Kemudian; kalau seekor burung kenari, atau burung kembala kerbau; kalau diajar berucap maka selang beberapa lama mereka ini bisa bertaka-kata walaupun mereka tak mengerti butir perkatan itu.

Lembu atau kambing kalau diajar untuk masuk kandang bila petang, dengan izin tuhan mereka ini mampu kembali ke kandang.

Tapi babi ini kalau diajarkannya bertutur maka sampai beraman belum tentu dia bisa mengucapkan Alhamdulillah.

Lalu kalau ditadahkan kitab kepadanya, bukan saja dia berguling-guling dalam kubangan lumpur malah mungkin-mungkin dia menyambar kitab itu lalu dimakannya.

Babi – tak usah diajar, biarkan dia begitu. Kerna babi itu sudah sinonim dengan kebebalannya dan penyondolannya. Kalau diajar lama-lama dia pasti menyondol.

Babi sudah terbiasa untuh bodoh dan sombong. Juga sudah sebati untuk melawan orang dan menjahanamkan tanaman orang.

Dan paling mendasar dalam jiwa perilaku babi adalah dia tak suka untuk bersih; sama ada bersih dari jiwanya, bersih dari pikirannya, bersih dari pemakanannya dan bersih dari perlakukannya. Kemudian babi pasti akan memusuhi sesuatu yang bersih; yang paling dia musuhi adalah kebenaran.

Kalau benar itu wujud, babilah yang pertama sekali akan menyondolnya dengan muncung – bagi babi ternak, dan dengan taring – bagi babi hutan.

Babi adalah sebuah lukisan yang menunjukkan penentangan kepada kebenaran, kerna itulah Allah menjelmakan manusia yang menentang hakikat menjadi babi. Inilah psikologi sang babi.

Justeru, barangsiapa yang menemukan kebenaran dan dia mengerti akan benar itu, lalu berdiam diri kerna nafsunya, atau dia tidak mahu mengikuti kebenaran dan tidak juga memusuhinya, Alllah tak menjelmakannya menjadi kera atau babi atau keldai.

Namun andai dia mengerti akan hujjah dan dia telah melihat cahaya hakikat lalu dia bangun dan memusuhi yang Haq, maka dia persis seperti babi.

Tabiat atau sikap ini dalam ilmu sosiologi belum terungkap, yang ada hanyalah bebalisme yang diciptakan oleh Prof Syed Al Attas. Bebal bagi Prof Syes Al Attas adalah satu sikap yang bebal, malas berfikir, tak acuh, tak mendepankan logika dan rasional dan tak mementingkan kebenaran bagi manusia yang punya ilmu dan pendidikan – terutamanya dikalangan pelajar Universiti dan para pengajar.

Selalunya sikap ini banyak terlihat dikalangan masyarakat negara membangun seperti Malaysia.

Tapi sang prof tidak sempat menyinggung satu tabiat yang sbenarnya sudah lama mewabak; iaitu satu sikap permusuhan kepada kebenaran yang dialami oleh para agamawan dan para pelajar yang menekuni hal-hal agama.

Iaitu sikap memusuhi dalil yang akurat dan memerangi para pembawa panji kebenaran, disebabkan fanatik mazahab ataupun mengikuti orang tua mereka, walaupun mereka mendapati mereka tiada alasan yang kokoh untuk beriman dengan pengamalan mereka dan mengetahui kekuatan hujjah lawan.

Ibarat babi yang memusuhi hak dan kebenaran.

Sikap ini juga digambarkan dengan mereka menciptakan pembohongan dan penipuan serta pemutarbelitan fakta dan akta, dan mereka terarah untuk menggunakan bahasa-bahasa yang tak layak untuk seorang agamawan ucapkan.

Begitu juga bahwa sikap ini dijelaskan lagi dengan kesudian untuk merendan tubuh dalam kesesatan orang lain, atau abermuafakat dengan kejahatn atu kepalsuan dalam memusihi kebenaran, ibarat babi berkubang dalam nanis dan lumpur.

Dan juga akan memungut segala cerita, atau alasan atau hujjah tanpa menilainya sah atu batil, sohih atau dhaif, benar atau palsu, asalkan hujjah itu bisa dibikin sebagai senjata; ibarat babi memakn sampah dan najis asalkan perutnya kenyang.

Inilah satu sikap yang tidak lagi sempat dunia sosiologi gambarkan dalam sebuah kalimat yang ringkas. Lalu saya memikirkan bahwa, tat kala Allah menggambarkan manusia yang suka berpura-pura itu sebagai Munafiq, manusia yang selalu berbuat kejahana itu sebagai Fasiq lalu apakah Allah tidak menggambarkan manusia yang suka memusuhinya apabila kebenaran telah terang?

Sebenarnya Allah telah memberi gambaran yang jelas dalam ayat terdahulu: manusia yang punya sifat sebegini bisa dijelmakan menjadi Babi. Lalu apa salahnya andai saya, menggunakan kaedah sosiologi untuk memberi gambarang yang padat kepada sikap ini; Khinzirisme, merujuk kepada ciri-ciri yang dikongsi bersama babi.

Justeru, kepada mana-mana para ustaz, atau pata mufti, atau para syeikh, atau yang lebih rendah dari itu seperti para murid; yang mana sudah mengerti akan kebenaran, makanya janganlah mendustakannya dan memusuhinya.

Kalaulah dilihat bahwa hujjah manusia yang dikira “sesat” itu tidak benar maka kita harus bawakan hujjah yang bisa menenangkan hati dan minda – satu hujjah yang kuat akurat. Bukanlah berupa fitnah ataupun reka-rekaan.

Dan janganlah juga menyondol batang tubuh manusia yang membawa obor kerna nanti setelah obor jatuh, pasti kita berada dalam kegelapan yang perit.

Seandainya para pondokius itu mahukan kebenaran dan berasa kebenaran itu dipihak mereka, maka perlakukanlah kebenaran itu dengan lemah lembut dan sopan. Benar itu tidakah akan terbit dari bebal, kebiadaban dan pembohongan. Tetapi Benar itu sudah pasti akan muncul dari kelembutan dan kesusilaan.

Apakah kita akan yakin “benar” akan diterima dari sebuah kedustaan dan penghinaan kepada pihak lawan?

Mungkin bagi otak babi; ya.. benar akan lahir dari kubangan najis dan sondolan hidung babi!

Bebalisme tidak semestinya mencakup Khinzirisme, tapi sebuah khinzirisme adalah pasti mencakup bebalisme. Orang yang bebal kadang-kadang tak memusihi kejahilannya tapi orang yang memusuhi adalah pasti seorang bebal lagi jahil.

Khinzirisme, bukanlah sebuah faham atau ideologi tetapi sebuah sikap yang bacul dan jijik – sejijik sosiologi dan psikologi babi itu sendiri.

Justeru, mentancapkan kalimat “Babalisme” atau “Khinzirisme” pada seseorang bukanlah dari ajaran Islam kerna Muhammad saw tidak pernah berbuat demikian. Ubai Bin Sahlul yang mengepalai kemunafikan itupun tak pernah disebut “Munafik” oleh Rasulullah. Begitu juga Dzul Khuwaishirah yang melahirkan golongan Khawarij tak pernah dipanggil sebagai “Bapak Khawarij” oleh baginda.

Makanya, biarkan Bebalisme dan Khinzirisme beredar dalam bicara ilmu sosiologi dan jagan sesekali kita menamakan manusia dengan istilah ini. Ia adalah sekadar nama yang memberi petunjuk kepada sebuah sikap semata-mata.

Catatan Tambahan

Sosiologi adalah ilmu kaji tabiat manusia dalam berinteraksi, secara bahasa mudahnya.

* Wikipedia menjelaskan bahwa:

Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sosiologi merupakan cabang Ilmu Sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sebagai cabang Ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August Comte. Comte kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

* Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi:

Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

* Soejono Sukamto:

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

Label: , , , , , ,

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: