Fatawa Ulama Ahlus Sunnah Berkenaan Gaza

Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) mengeluarkan penjelasan tentang peristiwa pembunuhan, pengepungan dan pengeboman yang terjadi di Jalur Ghaza sebagai berikut:

الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه ، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. وبعد :

Komite tetap untuk penelitian ilmiyah dan fatwa (Lajnah Da’imah lilbuhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’) di Saudi Arabia merasa berduka cita dan merasakan sakit atas semua kezholiman, pembunuhan anak-anak, wanita dan orang-orang jompo, penghancuran kehormatan dan perusakan rumah-rumah dan tempat-tempat strategis serta pemunculan rasa takut para orang-orang umum yang menimpa saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di Jalur Ghaza secara khusus. Ini semua pasti merupakan kejahatan dan kezholiman terhadap masyarakat palestina.
Peristiwa menyedihkan ini seharusnya menjadikan kaum muslimin bersikap bersama saudara mereka orang-orang Palestina dan saling tolong-menolong bersama mereka, membantu dan bersungguh-sungguh dalam menghilangkan kezaliman ini dari mereka dengan sebab dan sarana yang memungkinkan untuk diwujudkan untuk saudara se-islam dan se-ikatan iman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah [9]: 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضاً وشبك بين أصابعه / متفق عليه،

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan dan selaiu menjalin antara jari-jemarinya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر (متفق عليه)

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih dan saying mereka seperti permisalan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يسلمه ولا يحقره (رواه مسلم)

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim)

Pertolongan ini mencakup banyak hal sesuai dengan kemampuan dan memperhatikan keadaan yang ada baik berupa materi ataupun maknawi (Spirit), baik bantuan dari umumnya kaum muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian dan lain-lainnya. Atau juga dari sisi Negara-negara Arab dan islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan tersebut kepada mereka dan bersikap benar terhadap mereka, membela permasalahan mereka di pentas, perkumpulan dan konferensi dunia dan Negara. Semua itu termasuk tolong-menolong pada kebenaran dan takwa yang diperintahkan dalam firman Allah ta’ala yang artinya: “Tolong menolonglah di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maaidah [5]: 2)

Juga di antaranya adalah memberikan nasihat dan petunjuk kepada mereka pada sesuatu yang berisi kebaikan dan kemaslahatan mereka. Di antara yang teragung dalam hal ini adalah mendoakan kebaikan kepada mereka dalam setiap waktu semoga dihilangkan cobaan dan musibah besar mereka ini. Juga semoga diberikan perbaikan keadaan mereka dan diberi taufik untuk beramal dan berkata yang benar.

Demikianlah dan kami berwasiat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana juga mewasiatkan kepada mereka untuk bersatu di atas kebenaran, meninggalkan perpecahan dan perselisihan serta menghilangkan kesempatan musuh yang senantiasa mencari dan terus mencarinya dengan lebih keras dalam menghancurkan dan melemahkan mereka.

Kami menganjurkan saudara-saudara kami untuk mengambil tindakan-tindakan untuk menghilangkan kezaliman di atas tanah mereka dengan keikhlasan dalam beramal karena Allah dan mengharapkan keridaan-Nya. Juga isti’anah (meminta pertolongan) dengan sabar dan shalat serta musyawarah ulama dalam semua urusan mereka. Karena itu adalah tanda taufik dan pertolongan Allah.

Sebagaimana juga kami mengajak cendekiawan dunia dan masyarakat internasional secara umum untuk melihat musibah ini dengan pandangan akal dan adil untuk memberikan hak masyarakat Palestina dan menghilangkan kezaliman darinya hingga bisa hidup dengan kehidupan yang mulia. Demikian juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua Negara dan individu yang telah berpartisipasi dalam membela dan membantu mereka.

نسأل الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلا أن يكشف الغمة عن هذه الأمة ، وأن يعز دينه ، ويعلي كلمته وأن ينصر أولياءه ، وأن يخذل أعداءه ، وأن يجعل كيدهم في نحورهم، وأن يكفي المسلمين شرهم ، إنه ولي ذلك والقادر عليه . وصلى الله وسلم على نبيا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين .

Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan Ketua Majlis Ulama Besar

Syeikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah Alu Syaikh

Riyadh, 3 Muharam 1430 H/ 31 Desember 2008 M

Label:

2 Respons to “Fatawa Ulama Ahlus Sunnah Berkenaan Gaza”

  1. Islam Syiah Says:

    Jika musuh berbaju Israel maka sudah jelas dan mudah untuk diperangi. Namun jika musuh berbaju Islam seperti baju yang dikenakan pemimpin Mesir dan Saudi, itu yang repot, karena banyak muslim yang terperdaya dengan tampilan luar mereka….kenapa ulama Salafy Saudi diam seribu bahasa atas tindakan penguasanya yang zalim?

    Jawaban saya:

    pertama:

    Nama tuan adalah “Islam Syiah” kemudian Gambar avatar tuan adalah gambar tokoh Syiah.

    Syiah ini adalah kembarnya Yahudi. Malah Keweujudan Abdullah Bin Saba ini terdapat dalam karangan tokoh-tokoh Syiah dengan puji-pujian. Jadi barangkali tuna adlh Syi’ia ataupun simpatis syiah.

    Seorang syiah beriman kepada taqiyah / hipokrasi tidak diterima kesaksiannya dalam saluran hadith kerna syiah adalah pembohong sehinggakan hadith-hadith tidak boleh diambil dari seorang rafidhi [syiah].

    Kedua:

    Syiah dan Yahudi adalah saudar kembar. Dalam lipatan sejarah, tiada satu kerajan Islam yang tumbang tanpa di khianati oleh Syaih. Ini historis yang tak dapat dipungkiri.

    Ketiga:

    Sekarang ini kononnya Syiah Iran punyai kekuatan militer, namum dimana Syiah Iran waktu ini?

    Keempat:

    Ketika Lubnan digempur oleh Yahudi atas alasan memerangi Hizbu-syaitan [pimpinan Hasan Nasrullah], sebenanya apa?
    Sebenarnya kawasan yang dibedil itu adalah tempat kediaman masyarakat Sunni! Lalu si Syiah ini melancarkan mortar dari kejirana Sunni agar Yahudi memusnahkan dan mematikan kaum Sunni sedangkan syiah ini lali menyorok setelah mereka memulakan api pergolakan.

    Lihat laporan, berapa rami pasukan Hasan Nasrullah yang mati berbanding masyarkt sunni yang menjadi korban dalam peperangan tersebut! ini bukti bahwa Syiah sedang membersihkan masyarakat Sunni di lubnan.

    Ini belum lagi cerita sunni yang dibunuh di Iraq kerna “Membunuh Sunni adalah Tuntutan agam Syiah”.

    Kelima:

    Pemimpin Mesir dan Saudi adalah Pemimpn Sunni yang berusaha untuk menjaga rakyatnya. Yang keji dan jahat adlah pemimpin Iran seperti Ayatul Syaitan Khomaini yang jelas-jelas mengkafirkan Sahabat!

    Bagiman tuan boleh mengatakn bahwa ulama saudi diam seribu bahasa?
    apakh tuan duduk di saudi?
    atau tuan memang berdamping dengan para ulama saudi setiap masa sehingga tuan tau bahwa mereka memang diam?

    Khalifah Umar bin Khattab radiallahu ‘anhu berkata: “Wahai rakyatku! Kamu mempunyai hak ke atas kami untuk menasihati pada perkara-perkara yang kami tidak ketahui, dan hendaklah kamu saling membantu (tolong-menolong dan bekerjasama) dalam kebaikan”. (Lihat: Az-Zuhud 2/602, Hannad.)

    Memang ulama saudi memberi nasihat kepada para umara Saudi. Tetapi nasihatnya bukanlah melalui corong radio, mimbar masjid, koran [surat khabar] dan demontrasi. tetapi menasihatinya dengan sembunyi-sembunyi.

    Rasulullah SAW bersabda dari riwayat sahabat Iyadh bin Ghunaim ra., ”Barang siapa hendak menasehati penguasa maka janganlah secara terang – terangan, melainkan ambil tangannya dan berdua dengannya. Apabila ia menerimanya maka itu adalah untukmu, kecuali apabila ia enggan maka apa yang ada padanya adalah baginya sendiri” (HR Ahmad, hadits hasan) Maka dari itu Usamah bin Zaid ra. ketika menasehati Khalifah Islam Utsman bin Affan ra. dilakukannya dengan secara diam – diam sebagaimana atsar sahabat berikut ini : Dari Ubaidilah bin Khiyar berkata, “Aku mendatangi Usamah bin Zaid ra. dan aku katakan kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak menasehati Utsman bin Affan ra. untuk menegakan hukum had atas Al Walid ?’. Maka Usamah bin Zaid ra. menjawab, ‘Apakah kamu mengira aku tidak menasehatinya kecuali harus dihadapanmu ? demi Allah, sungguh aku telah menasehatinya secara sembunyi – sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu keburukan dan aku bukanlah orang yang pertama kali membukanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sebuah hadits yang diambil dari Kitab Riyadhus Shalihin berikut ini : Dari Abu Sa’id Al Khudri ra dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Afdhalul jihaadi kalimatu ‘adlin sulthaanin jaair” yang artinya “Seutama – utamanya jihad adalah mengatakan keadilan di depan penguasa yang menyeleweng” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi.
    Sebahagian orang menafsirkan “mengatakan keadilan di depan penguasa” ialah di khalayak ramai. Penafsiran itu salah,sebab yg dimaksudkan ialah nasihat secara berdepan dgn pemerintah (bersemuka). Pada hadits lain Rasulullah SAW berkata pada seseorang yang bertanya tentang jihad apa yang paling utama, maka Rasulullah SAW menjawab,”Kalimatun haqqin ‘inda sulthaanin jaair” yang artinya “Mengatakan kalimat yang benar di depan penguasa yang menyeleweng” (HR. An Nasa’i)

    Nampaknya tuan adalh keliru dan jatuh dalam kubangan Khawarij si anjing neraka

    “Sesiapa yang melihat sesuatu yang dibenci dari pemimpinnya, hendaklah dia bersabar. Sesungguhnya sesiapa yang keluar dari jemaah sejengkal maka matinya seumpama mati jahiliyah.” (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

    Imam An-Nawawi berkata:

    “Adapun keluar menentang ke atas mereka, maka haram hukumnya berdasarkan ijma’, walaupun mereka itu fasiq dan zalim.”

    “Tidak harus keluar menentang khalifah-khalifah semata-mata kerana kezaliman dan kefasiqan selama mana mereka tidak merubah dasar-dasar Islam.”

    Al-Kirmani berkata:

    “Para fuqaha telah berijma’ bahawa pemimpin mutaghallib (yang merampas kuasa dan dilantik bukan dari perlantikan rakyat), wajib mentaatinya selama mana dia mendirikan solat berjamaah dan jihad, kecuali jika berlaku kekufuran yang sohih. Pada ketika itu, tidak wajib mentaatinya, bahkan wajib bermujahadah terhadapnya bagi yang mampu.”

    Al`Aini berkata:

    “Tidak harus menggulingkannya (penguasa) dari kekuasaan di sebabkan itu (fasiq dan zalim).”

    Ibn Taimiyah berkata:

    “Dalam hadits, ia memerintah mereka untuk taat, melarang mereka dari merampas kuasa dari penguasa dan memerintah mereka agar menegakkan kebenaran.”

    “Ini menerangkan bahawa ‘aimmah itu adalah para pemimpin dan penguasa. Bahawa dia dibenci dan diingkari terhadap maksiat yang mereka datangkan. Dan tidak boleh ditarik tangan dari ketaatan. Bahkan mereka ditaati pada (perkara yang makruf yang diredhai) Allah. Di antara mereka ada yang baik dan ada yang buruk”

    Ibn Abi Al-`Iz berkata:

    “Adapun wajib mentaati mereka walaupun mereka menyeleweng kerana keluar dari ketaatan mereka terdapat kerosakan-kerosakan yang berganda dari apa yang diperolehi dari penyelewengan mereka. Bahkan dalam bersabar atas penyelewengan mereka, terdapat penghapusan dosa dan gandaan pahala.”

    Al-Kirmani berkata:

    “Sesungguhnya raja tidak dilucutkan jawatan disebabkan kefasiqannya kerana pada usaha untuk melucutkan dia terdapat sebab bagi fitnah, pertumpahan darah dan perpecahan. Kerosakan dalam melucutkan dia lebih banyak dari mengekalkannya.”

    Ibn Battal berkata;

    “Telah ijma’ para fuqaha’ atas wajib mentaati raja mutaghallib (yang merampas kuasa dan dilantik bukan dari perlantikan rakyat) dan berjihad dengannya dan mentaatinya lebih baik dari keluar menentangnya kerana pada yang demikian itu memelihara (pertumpahan) darah.”

    Berkata Ibn Taimiyah;

    “Telah tetap persoalan di sisi Ahlli Sunnah terhadap meninggalkan perang dalam situasi fitnah berdasarkan hadits-hadits yang sahih dan tsabit dari nabi s.a.w. Mereka menjadikan ini dalam urusan aqidah mereka dan memerintahkan sabar atas penyelewengan para pemimpin dan meninggalkan perang atas mereka, walaupun telah memerangi mereka sebelum ini segolongan yang ramai dari ahli ilmu dan agama.”

    Berkata Ibn Hajar mengenai pandangan para salaf yang membenarkan perang ke atas pemimpin yang zalim;

    “Ini adalah mazhab para salaf yang lama. Telah tetap persoalan ini di sisi mereka untuk meninggalkan yang demikian itu setelah mereka menyaksikan ia telah menjurus kepada yang lebih buruk dari itu. Sesungguhnya pada pertempuran Al-Harrah dan pertempuran Ibn Al-Asy`ats dan selainnya pengajaran bagi siapa yang merenung.”

    Asy-Syaukani berkata;

    “Tidak harus melawan para pemimpin dengan pedang, selama mana mereka mendirikan solat.”

    Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda

    “Di suatu saat nanti akan muncul seorang sultan (penguasa/pemimpin). Sesiapa sahaja yang hendak menghinakannya, bererti dia telah menikam agama Islam dan tiada pintu taubat baginya kecuali dia mahu memperbaikinya, tetapi dia tidak berdaya memperbaikinya sampai Hari Kiamat”. (As-Sunnah, 2/490-492. Ibnu Abi ‘Asim.)

    “Sultan (penguasa/pemimpin) adalah naungan Allah yang ada di bumi, barangsiapa menghormatinya, Allah akan menghormatinya, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan dirinya ” Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai-bagai hadis dari Rasulullah dan diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Ibnu Umar, Abu Bakrah, Anas dan Abu Hurairah. Berkata Ibnu Abi Zamanain: “Ini adalah perkataan ahli sunnah”….

    “Akan ada selepas peninggalanku nanti pemimpin yang kamu mengenalinya dan mengingkari kejahatannya, maka sesiapa yang mengingkari kejahatannya (bermakna) dia telah berlepas diri dan sesiapa yang membenci kejahatannya dia telah selamat, akan tetapi orang yang meredhai kejahatannya akan mengikuti kejahatannya. Apakah tidak kita perangi mereka dengan pedang (wahai Rasulullah!)? Baginda menjawab: Jangan! Selagi mereka masih mendirikan solat di kalangan kamu”. (H/R Muslim 6/23)

    “Dari Abi Umamah al-Bahili, dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam baginda bersabda: Ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan akan dikuti oleh ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah hukum dan yang terakhir adalah solat”. (H/R Ahmad, 5/251) Hadis ini membuktikan bahawa tidak boleh dihukum kafir setiap individu atau pemimpin jika masih mendirikan solat. Dan sesebuah negara dinamakan negara Islam jika masih terdengar suara azan, solat masih didirikan dan dikuatkan lagi jika majoriti rakyatnya beragama Islam kerana hadis di atas menjelaskan: “Dan (tanda) terakhir adalah solat”

    Al-Ismaili rahimahullah berkata: “Kaum Salaf berpendirian, bahawa sesebuah negara dinamakan negara Islam selagi masih ada panggilan untuk solat (azan) dan didirikan solat dengan terang-terangan serta penduduknya (rakyatnya) sentiasa mendirikan solat dengan bebas (aman)”. (Iktiqad Aimmatu Ahlu Hadis, p.50)

    “Di suatu saat nanti akan muncul seorang sultan (penguasa/pemimpin). Sesiapa sahaja yang hendak menghinakannya, bererti dia telah menikam agama Islam dan tiada pintu taubat baginya kecuali dia mahu memperbaikinya, tetapi dia tidak berdaya memperbaikinya sampai Hari Kiamat”. (As-Sunnah, 2/490-492. Ibnu Abi ‘Asim.)

    “Sultan (penguasa/pemimpin) adalah naungan Allah yang ada di bumi, barangsiapa menghormatinya, Allah akan menghormatinya, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan dirinya ” Hadis ini diriwayatkan dalam berbagai-bagai hadis dari Rasulullah dan diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, Ibnu Umar, Abu Bakrah, Anas dan Abu Hurairah. Berkata Ibnu Abi Zamanain: “Ini adalah perkataan ahli sunnah”. Lihat: Usulus-Sunnah. Hlm. 105-106. Ibnu Abi. Cetakan al-Khanji, Mesir. Lihat: Al-Maqasidul Hasanah, Juz Raf’u Asy-Syukuki fi Mafakhiri al-Muluk. 2/492. As-Sakhawi. (As-Sunnah, Fasal ketujuh berkenaan larangan mencela umara (pemimpin). Ibnu Abi Asim.) Perkataan “Naungan Allah” bermaksud: “Allah menghilangkan hal-hal yang membahayakan manusia dengan perantaraan penguasa, sebagaimana naungan yang melindungi manusia dari terik sinar matahari”.

    Anas radiallahu ‘anhu berkata: “Para pembesar sahabat menasihati kami: Janganlah kamu mencerca para umara”. At-Tabrizi meriwayatkan dari Ka’ab al-Ahbar, beliau berkata: “Penguasa adalah naungan Allah yang ada di permukaan bumi, apabila dia melakukan ketaatan kepada Allah, dia akan mendapat pahala dan kamu harus bersyukur. Apabila dia melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan mendapat dosa dan kamu harus bersabar. Janganlah cinta kepada penguasa membuat kamu terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan kebencian kepadanya membuat kamu keluar dari ketaatan kepadanya”. (Nasihah li-Raii war-Raiiyah. p.65.) Al-Manawi rahimahullah berkata: “Allah menjadikan penguasa sebagai penolong bagi sekalian makhluk hidup di bumi, maka kedudukannya dijaga dari celaan dan penghinaan agar penghormatan tetap kepada penguasa dan menjadi sebab kemudahan dan bertambahnya bantuan serta pertolongan Allah bagi hambaNya”. (Lihat: Faidhul Qadir 4/134.) Sahl bin Abdullah at-Tusturi rahimahullah berkata: “Manusia sentiasa dalam kebaikan jika masih menghormati penguasa/pemerintah dan ulama.

    Jika mereka masih menghormati dua komponen umat Islam ini, maka Allah akan memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka. Seandainya mereka meremehkan dua komponen ini, akan rosaklah kepentingan dunia dan akhirat mereka”. (Lihat: Tafsir Qurtubi 5/260-261.) Ibn Abi Asim mengkhususkan satu bab dalam kitabnya dengan judul: “Perintah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa-Sallam Agar Bersabar Ketika Mendapati Tingkah Laku Penguasa Yang Tidak Baik”. (As-Sunnah 2/523. Ibnu Abi Asim.) Imam Nasaii rahimahullah juga memperuntukkan bab di dalam kitabnya yang berjudul: “Perintah Bersabar Ketika Menghadapi Kezaliman Penguasa, Kerakusan Dan Perbuatan Monopoli Pemerintah”. (Syarah Muslim. 12/235. An-Nawawi.) Dari Ziyad bin Kusaib al-Adawi dia berkata: Aku pernah berada di bawah mimbar Ibnu Amir bersama Abi Bakrah, ketika itu dia berkhutbah dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis, dengan sepontan Abu Bilal berkata: Lihatlah penguasa kita memakai pakaian orang fasik. Maka Abu Bakrah berkata: Diamlah engkau! Saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Barangsiapa menghina penguasa Allah di bumi, nescaya Allah akan menghinakannya”. (H/R Riwayat Turmizi.) Para ulama Salaf as-Soleh keseluruhannya mengharamkan umat Islam dari menghina, mencela dan memburuk-burukkan para pemimpin, pemerintah atau penguasa Islam: “Dari jalur Yahya bin Yaman, Sufyan telah menceritakan kepada kami dari Qais bin Wahab dari Anas bin Malik radiallahu ‘anhu dia berkata: Para pembesar dari kalangan sahabat Rasulullah telah melarang kami mencela/menghina penguasa (pemerintah)”. (H/R Ibnu Abdil Barr 21/287. At-Tamhid.)

    Dari Abdullah bin Masoud radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: “Sesungguhnya akan berlaku selepas peninggalanku sikap pemerintah yang merampas harta kamu dan berbagai-bagai perkara yang kamu ingkari.

    Para sahabat bertanya: Apakah yang engkau perintahkan pada kami wahai Rasulullah!? Baginda bersabda: Tunaikanlah kewajipan kamu dan berdoalah kepada Allah untuk mendapatkan hakmu”. (H/R Bukhari 13/5. Muslim 3/1472) Imam Nawawi berkata tentang hadis di atas ini: “Dalam hadis ini terdapat suatu perintah supaya mendengar dan taat, walaupun Si penguasa zalim dan kejam. Hak untuk ditaati tetap wajib dijunjung, tidak boleh memberontak kepadanya. Bahkan semestinya tetap bertakarrub dan berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kejahatannya dan menolak keburukannya”. (Syarah Muslim 12/232. An-Nawawi) Ibnu Allan rahimahullah pula berkata: “Pada hadis ini ada perintah supaya bersabar menghadapi takdir Allah dan redha atas ketetapan yang manis atau yang pahit, serta pasrah terhadap kehendak Allah Subhanahu wa-Ta’ala yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Lihat: Dalil Ghalihin)

    “Adalah Bani Israil dipimpin oleh para Nabi mereka. Setiap kali seorang Nabi wafat digantikan oleh Nabi berikutnya. Dan sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku, tetapi akan ada para pemimpin (yang beragama Islam), mereka banyak (jumlahnya). Para sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami (apabila itu terjadi)? Nabi bersabda: Patuhilah pemilihan (pemimpin yang beragama Islam) yang pertama, berikanlah oleh kamu hak mereka kepada mereka, kerana Allah akan menanyakan kepada mereka apa yang menjadi tanggungjawab mereka”. (H/R Bukhari 5/401. Muslim 3/1471. Ibn Majah 2/958. Ahmad 2/297)

    Ibnu Jarir rahimahullah berkata:

    “Perkataan yang paling utama dan benar di dalam hal ini (negara Islam) adalah perkataan yang mengatakan bahawa Ulil Amri adalah para pemimpin dan penguasa (beragama Islam). Hadis-hadis dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam dalam perintahnya untuk taat kepdaa para pemimpin dan penguasa (Islam) statusnya adalah sah belaka. Dalam ketaatan kepada mereka adalah kemaslahatan bagi kaum muslimin”. (Lihat: Tafsir at-Tabari, 5/150)

    Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu:

    “Tidak akan mampu memperbaiki keadaan manusia kecuali penguasa, sama ada penguasa yang baik atau yang jahat. Orang-orang bertanya kepadanya: Wahai Amirul Mukminin! Jika penguasa itu baik, ini wajar ditaati, tetapi bagaimana dengan penguasa yang jahat? Ali berkata: Sesungguhnya Allah menjaga keamanan suatu daerah melalui perantara penguasa walaupun ia jahat…….” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih sampai kepada Ali bin Abi Talib. Lihat: asy-Syu’ab)

    Kerana itulah para rakyat harus mentaati pemimpin muslim – tidak melepaskan ketatan walalupun mereka jahat, mentaati segala perintah yang benar dan baik serta meninggalkan perintah yang buruk [maksiat] tetapi tetap terus memberikan wala’ kepada mereka sehingga kita atau mereka dijemput oleh Allah.

    Syeikh al-Uthaimin berkata:

    “Ketahuilah bahawa orang yang belot terhadap pemerintah yang sah, pada hakikatnya telah menjadi hamba musuh-musuh Islam. Pemberontakan atau semangat meluap-meluap bukanlah suatu pelajaran yang bijak, tetapi yang harus kita ambil menjadi pelajaran adalah hikmah (mengikuti sunnah). (Huquq Ra’i war-Ra’iyah. Kumpulan Khutbah al-Uthaimin)

    Imam al-Qarafi rahimahullah:

    “Ada kaedah yang mengatakan bahawa memelihara kemaslahatan umum adalah wajib, hal ini tidak akan terwujud kecuali adanya penghormatan rakyat kepada penguasanya. Bilamana terjadi penentangan serta penghinaan terhadap mereka, maka akan terhalanglah pintu kemaslahatan umat”. (Az-Zakhirah 13/234. Cetakan Darul al-Islami)

  2. mashoori Says:

    Syiah bersekutu dengan Amerika Syarikat menyerang Iraq. Lihat bloig saya : http://bahayairan.wordpress.com bagaimana pemimpin politik Islam Afghanistan mengakui Syiah bersekutu dengan musuh Islam menjatuhkan Iraq dan Afghanistan.


    Jawaban:

    Saya setuju sangat

    sepanjang sejarah umat islam, anak saudara Yahudi – iaitu Syaih – adalaj musuh dalam selimut yang memulakan peperangan, membocorkan rahsia kekuatan negara islam dan pembelot.

    malah yang lebih teruk adalah Syiah itu sedang bersuka dan bergerombolan dalam PAS!

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: