Muslim Non Antropomorfis

Ketika manusia Yunani membina Kuil besar dan meletak kan Tuhan mereka di dalamnya – berupa patung yang sangat Indah – dalam bentuk manusia seperti mereka juga. Maka bangsa Yunani ini jatuh ke lembah antropomorfis; menyerupakan Tuhan dalam jasad manusiawi.

Ini satu wacana mewujudkan keimanan yang terbatas, pemikiran manusia hanya sampai setakat itu sahaja. Walhal Tuhan tidak harus semata-mata bangsanya Yunani kerna nanti bangsa lain seperti Negro tak akan mengimani Tuhannya Zeus, Tuhan para Tuhan.

Begitu juga bahwa manusia tidak harus punya rupa sama seperti Tuhan. Nanti tak dapat dibezakan antara Pencipta dan yang dicipta. Seperti juga Tuhan tak punya ilmu sehingga kretiviti menciptanya hilang – kerna dia hanya mampu menciptakan manusia bersumberkan bentuk jasad Nya.

Kalau Tuhan itu persis manusia tapi punya kapibiliti luar biasa, nanti Tuhan itu butuhkan rangsangan seksual dan aktiviti melampiaskan nafsunya juga berlaku. Paling penting tuhan punya Zakar atau Faraj!

Tuhan perlu kahwin dan kemudian menggomoli isterinya, seorang manusia atau pun tuhan juga. Dan anak Tuhan itu apakah tuhan atau bukan? Tuhan juga kalau seperti manusia harus punya lubang najis yang mengalir tahi dan air kencing. Lalu rupa Tuhan sebegini tak pas untuk sebuah Agama!

Justeru setelah manusia bisa berfikir dengan tenang dan aman, maka mereka saban hari melupakan tuhan Yunani yang banyak; Zeus, Hera, Apollo, Demeter dan banyak lagi. Kerna Tuhan dan agama ini tak layak bagi manusia yang waras.

Tuhan tak wajib dalam jasad manusia. Manusia tidak harus berperan sebagai penganut antropomorfis.

Anthropomorphism adalah lambang sebuah pemikiran yang senteng: yang tidak maju dan tersekat secara local dan demografi setempat. Kerna pemikiran ini merasakan bahwa manusia yang maujud hanyalah bangsa mereka semata-mata sehingga mereka membina agama yang mempunyai Tuhan seperti mereka. Kalau mereka ini mengetahui bahwa wujud manusia lain di semua penjuru bumi, nescaya mereka tak akan membangun Tuhan Berjasad Manusia, kerna semua penganut mahukan agama mereka diimani oleh setiap manusia yang ada.

Bersikap lokaliti kerna setiap bangsa akan menganggap bahwa diri mereka adalah yang terbaik. Tamadun yang mereka cipta adalah yang terunggul. Hatta hingga hari ini setiap bangsa mengimani bahwa merekalah bangsa terbaik dari sekian banyak bangsa.

Kerana itu, Muslim tidak harus menjisimkan atau menjasadkan tuhan, menjadikan tuhan dalam bentuk manusia. Tuhan harus bebas lepas dari sebarang sisi manusia atau makhluknya.Tuhan tak sama seperti makhluk. Maka kalau ada seorang muslim yang mengimani antropomorfis maka keimananya goncang dan menyalahi kebenaran.

Tuhan itu juga tak harus ditanggapi dalam pemikiran manusia; tak terkesan dengan zaman atau masa, serta tak dipahami dalam keadaan terhukum dengan segala hukum makhluk yang lain.

Lalu tidaklah Tuhan itu punya tangan sepertimana anggota badan manusia. Begitu juga adalah mustahil Tuhan itu berada diatas Langit sebab kalau Dia diatas langit bererti bahwa dia mengisi ruang, dan apabila Dia mengisi ruang bermaksud Tuhan berjisim. Bermakna kita telah menjismkan Tuhan!

Inilah keimanan yang benar adanya.

“Tiada yang menyerupai-Nya suatu juga Ia mendengar lagi Melihat”  (Asy-Syura : 11)

Justeru dengan jelas Tuhan telah nafikan dirinya serupa dengan makhluk ciptaan-Nya. Jauh sekali sama dengan Dia. Maha suci Tuhan dari keserupaan – kejisiman – manusiawi.

Kerna itulah, bahwa dalam Islam, keimanan  yang benar-benar mutlak adalah menolak kejisiman Tuhan. Tuhan tak berbentuk seperti manusia atau hewan atau apa-apa saja dari ciptaan-Nya.

Semuanya kerna bila kalau tuhan itu maujud dalam kata “tangan”, “betis”, “jari”, “berada di atas Langit”; semuanya menyalahi prinsip yang kita katakan tadi – tak ada logika dan tak masuk di akal.

Rasio kita tak benarkan hal ini.

Tapi bagaimana dengan firman Tuhan:

Bahawasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (al-Fath 48: 10).

Atau Dia mempunyai wajah seperti:

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 27)

Atau Tuhan punya jari?

Dan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash Radiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari Ar Rahman laksana satu hati Ia bolak-balikkan hati tersebut sekehandaknya”. Kemudian Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, palingkanlah hatiku untuk mentaati-Mu.”

Dan dari Nawwas bin Sam’an ia berkata aku mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Tidaklah ada satu hatipun melainkan berada diantara dua jemari dari jari jemari Ar Rahman bila ia kehendaki, Ia akan meneguhkannya dan bila Ia kehendaki, Ia akan menyesatkannya.” (diriwayatkannya oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Ibnu Majah.

“Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan Kedua TanganKu. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (Shad: 75)

Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr ra, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah azza wa jalla. Dan kedua tangan Allah adalah kanan …” (HR. Muslim)

Maka bagaimana harus kita ubah maknanya supaya ia selaras dengan nalar kita; bagi memenuhi prinsip yang telah kita imani sebelum ini?

kalau Istiwa bisa kita katakan sebagai kekuasaan,

Tangan sebagai kekuasaan juga

Turunnya Allah itu sebagai rahmah

lalu 2 tangan kanan Allah itu mau disimpulkan sebagai simpulan bahasa apa?

2 jemari Tuhan itu nak dimaksudkan dengan apa pula?

 

Lalu yang silap nya siapa: antara manusia Muslim yang menta’wil atau manusia muslim yang mengimani secara zahir bagi setiap sifat Tuhan?

Hujjah yang yang melarang: :kalau diterima secara harfiyah – zahir – maka kita jatuh dalam  Antropomorfis. Maka harus diubah maknanya kepada makna yang DI IMANI OLEH RASIO.

Kalau tuhan itu di atas langit, maka tuhan itu sudah mengambiol tempat. maka bermakna tuhan itu berjisim.

Hujjah muslim yang mengimani dengan apa yang tuhan khabarkan pula: Allah yang mengetahui akan diri-nya, dan Dia berfirman:

“Dan tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat. Semuanya itu dari sisi Rabb kami”. [Ali-Imran : 7]

Maka kita harus bertanya: Yang mengetahui makna ayat mutasyabiha itu hanyalah Tuhan sahaja, lalu apakah kalian mengerti dan mengatasi Tuhan?

Dan yang menyebabkan kalian membantah adalah kerna kalian telah meletakkan Tuhan dalam Hukum Makhluk. Hanya makhluk yang terlingkup dengan masa dan 6 penjuru [ atas bawah depan belakang kanan kiri]

Kerana itu bila kita gunakan kaedah kalian dalam menafikan tuhan di aras:

“Kalau Tuhan di Arash, maka Tuhan mempunya TEMPAT, maka bermakna Tuhan berjisim”

Kita gantikan dengan kondisi lain – Tiada

Kalau Tuhan TIDAK BERTEMPAT, bermakna Tuhan Tiada, kerna yang tiada tempat itu tidak maujud!

Lalu kalau mengikut logika kalian, bermakna bahwa kalian telah menyembah Tuhan yang tiada.

Yang menjadi masalah adalah kalian jatuh dalam kubangan logika tanpa kalian memahami logika.

Ketika kalian menafikan Tuhan punya Tangan, wajah, jari, tangan Kanan, kalian telah menimbang dan melihat Tuhan dari paradigma “Hukum yang berlaku pada Makhluk” sehingga kalian menarik Tuhan ke dalam hukum tersebut. Sepatutnya Tuhan dilihat dalam kacamata diluar Hukum Makhluk lantaran Dia lah Sang Pencipta, bukan yang dicipta.

Kerana itulah kalian tersilap lalu menjadi penjisim yang tanpa sadar. Yang kami ini bukanlah penjisim, meliankan poensuci tuhan lantaran kami melihat tuhan diluar kotak bikinan-Nya; melihat Tuhan sesuai dengan Ketuhanan nya. Sedang kalian melihat Tuhan dengan kemanusiaan sehingga kalian membayangkan sifat-sifat Tuhan dalam kemanusiaan.

Yang benar adalah kalian Antropomorfis dan kami Muslim Non Antropomorfis!

Label: , , , , , , , ,

4 Respons to “Muslim Non Antropomorfis”

  1. Haahuna Says:

    Apakah maksud fissama`? Oleh kerana bumi ni sfera, bukankah semua arah menunjuk ke langit jua? (di balik tanah di bwh kaki saya, di sebelah bertentangan bumi kita akan bertemu dgn langit jua)

    Jawaban:

    Hadith dari Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafaz dari Muslim:

    “Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah saw dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau saw berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

    أَيْنَ اللَّهُ
    “Di mana Allah?”

    Dia menjawab,

    فِى السَّمَاءِ
    “Di atas sana.”

    Lalu Nabi saw bertanya lagi,

    مَنْ أَنَا
    “Siapa saya?”

    Budakku menjawab,

    أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ
    “Engkau adalah Rasulullah.”

    Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
    “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.”

    (HR. Ahmad [5/447], Malik dalam Al Muwatho’ [666], Muslim [537], Abu Daud [3282], An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ [3/15], Ibnu Khuzaimah [178-180], Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah [1/215], Al Lalika’iy dalam Ushul Ahlis Sunnah [3/392], Adz Dzahabi dalam Al ‘Uluw [81] Al-Bukhari, Juz al-Qira’ah, 70, Asy-Syafi’i, ar-Risalah, [242])

    Lihat apa pandangan Imam Ad Dzahabi tentang hukum menunjukkan jari ke atas langit – dengan katanya “Sunnah”.

    lalu lihat pula hadith berikut:

    “Dari Jabir bin Abdullah ra bahawa Rasulullah saw bersabda semasa berkhutbah di hari ‘Arafah: Apakah aku sudah sampaikan (risalahku)? Para sahabat menjawab: Ya! Kemudian Rasulullah saw mengisyaratkan jari telunjuknya ke langit lalu bersabda: Ya Allah saksikanlah”.

    (H/R Bukhari, Muslim, Abu Daud, ad-Darimi dan Ibn Majah)

    Maka ini bertepatan dengan hadith-hadith yang lain yang menunjukkan Allah di atas, bukan dibawah.

    “Dari Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhuma berkata: Bersabda Rasulullah saw: Hati-hatilah kamu dari doa orang yang teranaiya (dizalimi atau diperlakukan secara tidak adil) kerana sesungguhnya doa mereka naik kepada Allah seperti bunga api. Pada lafaz yang lain, naik ke langit“.

    (H/R Al-Hakim, Ad-Darimi dan Az-Zahabi)

    Jadi setelah kita mengimani hadith, maka kita mampu mendapat satu kesimpulan

    – bahwa Allah di atas langit, Langit itu di atas kita, bukan di bawah, walaupun bumi itu sfera.

    kalau dibuat analogi itu, maka kita buatkan contoh KIBLAT – maka dalam kaedah di atas, mengimani Bumi itu Sfera, maka kita bisa mengadap kiblat dengan banyak penjuru selain dari kaedah “terbemanmnya mentari”, kerna nanti akhirnya semua penjuru tadi akan menuju kepada Ka’bah!

    Justeru cukupkanlah kita dengan nas yang ada. Berhenti keptika sahabat berhenti. Diam ketika sahabat diam. Beriman sepertri sahabat beriman.

    Ketika mereka menunjukkan jari ke langit maka dengan cara itu jugalah kita menunjuk; walalu bumi ini sfera.

  2. Haahuna Says:

    Kenapa jarak antara ‘arsy, kursi & langit dibwhnya sama tetapi kursi itu tersangat kerdil berbanding ‘arsy, begitu juga langit2 berbanding kursi?

    Jawaban:

    soalan seperti ini, hanya Allah yang mengetahuiraasia penciptaan makhluknya. Arasy, kursi adalah hal-hal yang terhijab dari pancaindera manusia, lalu biarkan saja persoalan ini kerna bukanlah bebanan kita untuk mengetahui mengapa Tuhan jadikan begitu.

    Qiblat drp Amerika utara adalah ke arah tenggara atau timur laut? http://moonsighting.com/faq_qd.html#1

    Oleh sebab bumi ni sfera, drp mana2 tmpt di muka bumi ni, ada 3 arah saja la yg mengarah ke qiblat, arah terdekat yang mengikut permukaan bumi, arah bertentangannya (mengikut permukaan juga) & arah yang menembusi bumi.

    Jawaban

    Seperti yang saya katakn, bagi seorang manusia, dia akan berhadapan dengan beberapa penjuru dalam menuju kiblat [ contoh yang seperti tuan katakan ada 3], ada manusia yang bisa mencapai 2 penjuru, ada yang 3, ada yang bisa mencapai 5 penjuru; maka persoalannya bagaimana?

    Apakah kita harus bisa memilih mana-mana saja penjuru atau kita punya kaedah lain dalam “menuju” Ka’bah? Hari ini kita mengadap jarak terdekat, zuhurnya kita mengadap menuju jarak yang jauh, kemudiannya sore kita menuju ke bawah kaki [ini mustahil sedikit]?

    Begitulah juga kita harus menunjukkan tangan kita ke langit, atau mengimani “fis sama” itu adalah di “atas”.

    ini bisa kita pahami; bumi seperti bola di dalam sebuah rumah, maka setiap manusia menunjukkan jarinya ke atas, maka ia pasti menuju ke arah rumah itu.

    Maha suci Tuhan, kerajannya begitu besar sekali, sehinggakan bumi dan segala isinya hanyalah ibarat sebutir pasir di padang pasir.

    Kerana itu, ketika isra’ mi’raj maka Rasul saw menuju llangit [apakah menembusi di bawah tapak kakinya atau terus ke atas?] pasti nabi telah melihat bahwa bumi itu bulat, lalu ketika mana dia mengajarkan para muridnya tentang Allah istiwa di atas arsy, maka Baginda mencukupkan dengan mengimani Allah di atas langit iaitu di “atas”.

    Justeru, cukupkanlah diri kita bilamana Rasulullah mencukupkan atas dirinya.

  3. Haahuna Says:

    Bukankah fissama` bermaksud “di langit”? Kenapa Imam Muslim letak hadith tu dalam bab larangan bercakap dalam solat?
    http://usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/muslim/004.smt.html#004.1094

    Jawaban:

    1] Kalau saudara beriman dengan hadith di atas, dan memahami maknaya as sama ialah di atas langit; maka apakah yg tuan akan bilang bila ditanya Tuhan di mana?

    Tuan bersedia akan menjawab “Fis sama”? atau tak bertempat?

    2] Tak ada salahnya meletakkan hadith tersebut didalam bab “larangan bercakap dalam solat”.

    Kerna dalam sesuatu hadith, selalunya terdapat banyak fiqh [ilmu] yang bisa diraih.

    Justeru, tuan rasa, seandainya tuan menjadi Imam Muslim, apakah tuan tidak akan meletakkan hadith tersebut di dalam bab itu?

    3] apakah matlamat tuan untuk mempertanyakan hal Bab, dan apakah ia bisa melemahkan makna hadith tersebut sehingga keimanan Allah di langit bisa dipungkiri?

    4] dan yang paling utama, apakah Imam Muslim yang meletakan hadith tersebut dalam Bab Larangan Bercakap Ketika Solat? atau insan lain yang mensyarahkannya?

    Kenapa Imam Malik menukilkan ‘Umar Ibn al-Hakam pula sebagai tuan jariyah tu?
    http://usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/muwatta/038.mmt.html#038.38.6.8

    Yang ni tak ada pula soalan ainallah?
    http://usc.edu/schools/college/crcc/engagement/resources/texts/muslim/hadith/muwatta/038.mmt.html#038.38.6.9

    Jawaban:

    1] kerna sudah memang benar empunya hamba sahaya itu namanya Umar Ibn Al Hakam, bukan Zaid atau Ali.

    2] apakah makna yang tuan ingin sampaikan adalah hadith tentang jariah ini, yang disepakati oleh al jamaah akan keashihannya, adalah dhaif, seperti yang dilakukan oleh golongan Asya’irah -Jahmiyah, antaranya Hassan as Saqaf, Nuh Ha Men keller, Abdul Hadi Palazi, GF Haddad, dan beberapa lagi seperti kerabat Al Ghumari?

    Kalau tuan mahu dhaifkan hadith ini, ya silakan, kami para salafi tidak keberatan untuk membenarkan tuan mendhaifkan hadith ini dengan alasan hadith jariah:

    a) diriwayatkan secara makna, bukan lafaz
    b) hadith ini bertentangan dengan hadith-hadith shahih yang lain
    c) berlawanan dengan keimanan Asya’irah
    d) berlawanan dengan ayat Quran “Tuhan itu tidak sama seperti apapun jua”

    Tetapi apakah tuan bisa mendhaifkan sekian banyak hadith lain, yang jumlahnya mencapai ratusan?

    Kehilangan satu hadith tidak membawa erti besar kepada kami lantaran kami mempunyai sejumlah – sehingga bisa mencapai seribu dalil – akan wujud tuhan di atas langit.

    3] saya mau bertanya, apakah tuan bisa memastikan bahwa kejadian menampar jariah itu hanya berlaku sekali sahaja sepanjang sejarah kenabian Muhammad?

    Dan bukankah dalam al muwatta [seperti rujukan tuan beri] menunjukkan bahwa terdapat beberapa naratif yang menceritakan tentang jariah; ada yang Baginda tanya “dimana tuhan” dan ada yang baginda tidak tanya.

    bukankah itu sebagai satu pengetahuan, bahwa hal tersebut bukan berlaku 1 kali sahaja. ibarat ada orang bertanya kepada nabi; “amalan apakah yang paling afdhal; yang memberikan banyak jawaban, walhal soalannya sama! Maknanya kes penamparan ini sebenarnya berlaku bukan hanya kepada Umar ibn Al Hakam semata-mata!

    4] untuk menyenangkan kerja tuan dan memudahkan saya. kita anggaplah bahwa sata terlah menyetujui bahwa hadith tersebut tak dikira sebagai hujah.

    maka saya minta tuan untuk menyangkal hadith-hadith yang lain, serta membuktikan bahwa seluruh ucapan para imam Ahlus Sunnah, termasuk Imam Asya’ari dalam Al Ibanah, Al Luma dan Maqalat adalah satu ucapan yang dusta, atau dhaif.

    Juga membantah kitab para ulama yang khusus dalam bab ini seperti kitab ad dzahabi.

    Silakan tuan.

    Yang qiblat tu saya ambik analogi anta saja. Kalau tengok rujukan yang saya berikan sebelum ni dia cakap ikut arah terdekat la. Kalau ada arah lain tu sebab anggap bumi ni leper: http://islamqa.com/en/ref/7535 – tapi beza hanya besar pada tempat jauh daripada Makkah.

    Saya tak tahu bagaimana hakikat mi’raj tu. Adakah kalau saya ada kapal angkasa yang cukup canggih saya dapat menembusi ke lapisan-lapisan samawat yang lebih tinggi? Saya juga akan dapat lihat lapisan-lapisan samawat tu jika ada teleskop yang cukup canggih?

    Bacaan lanjut:

    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang selayaknya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari sebarang apa yang mereka persekutukan.” (Surah az-Zumar, 39: 67)

    Shahih al-Bukhari, no. 6519 dan Muslim, no. 7050, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

    “Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman: Aku adalah raja, manakan raja-raja bumi?”

    Sila lemahkan ayat ini, atau sila ta’wil “dua tangan Allah”.

    Tetapi, manusia yang mengimani tuhan tak bertempat adalah dari kaum Mu’tazilah, dan kawan-kawannya seperti Jahmiyyah dan Asya’irah:

    Berkata Qadhi Abdul Jabbar al Mu’tazili dalam Tanzih al Quran ‘an al Mata’in (Beliau adalah Abdul Jabbar bin Ahmad bin Khalil, seorang ulama kalam, syeikh mu’tazilah Abu Hassan al Hamzani, salah seorang ulama’ bermazhab Syafi’e, digelar oleh golongan mu’tazilah dengan Qadhi al Qudhah. Wafat pada tahun 415H – Tobaqat al-Syafi’e 5/97)

    “Sesungguhnya yang dikehendaki (استوى ) ialah “استولى”, menguasai”.

    Imam al-Baihaqi dalam kitab al Asma’ wa al-Sifat setelah menakalkan perkataan salaf soleh dari ASWJ mengenai pengertian “استوى” dengan makna “علا وارتفع” yakni “tertinggi” , beliau menegaskan lagi bahawa ; “di atas perjalanan inilah menunjukkan oleh mazhab Syafi’e dan itulah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, al Husain bin al Fadhl al Bajali dan Abu Sulaiman al Khatibi.

    Beliau menambah lagi ; “ dan bukanlah makna (استوى) pada ayat ini dengan makna ” استيلا” , yakni memerintah dan menguasai, kerana ” استيلا” menepati makna menang yang harus berlaku lemah.”

    Berkata Daud bin Ali al Zahiri “Adalah kami berada di sisi Ibn al- A’rabi maka datanglah seorang lelaki bertanya “ Wahai Abu Abdullah, apakah erti firman Allah (الرحمن على العرش استوى) , maka beliau menjawab “Sesungguhnya Ia tertinggi di atas arasy sepertimana Ia ceritakan”. Lelaki tersebut menambah “Akan tetapi makna “استوى” yang sebenar ialah “استولى” . Maka Ibn Al A’rabi menjawab “ Apakah engkau tidak ketahui orang Arab tidak berkata “seseorang tidak istawla atas arasy” kecuali ada baginya lawan, maka apabila salah seorang daripadanya menang barulah dikatakan “sesungguhnya ia sudah istawla atasnya” . Sedangkan Allah tidak ada bagiNya lawan,maka ia tetap tertinggi atas arasyNya sepertimana Ia ceritakan.”

    Berkata Abu Hassan al Asya’ari dalam kitab al Ibanah m.s. 98;”Sesungguhnya para mu’tazilah, jahmiyah dan al haruriyyah telah menafsirkan ayat 5 surah Taha dengan makna ( استولى وملك وقهر) yakni menguasai, memerintah dan memenangi. Mereka mengingkari bahawa Allah itu beristiwa atas arasy seperti mana berkata ahl haq dan mereka berkata pula bahawa Allah itu berada di semua tempat.”

    Berkata Imam al Qurtubi dalam al Jami li Ahkam al Quran 7/213 “dan sesungguhnya para ulama salaf yang terdahulu mereka tidak berkata dengan menafikan jihah (pihak) dan mereka tidak berkata-kata demikian, bahkan mereka berkata-kata dengan mengithbatkan bagi Allah seperti yang tercatat dalam al Quran dan diceritakan oleh Rasulullah s.a.w. dan tidak ada seorang pun dari kalangan ulama salaf soleh yang mengingkari bahawa Allah istawa atas arasy secara hakikat. Dan ditentukan arasy dengan yang demikian kerana ia merupakan makhluk Allah yang paling besar. Cuma mereka tidak tahu kaifiyat (cara) kerana sesungguhnya tidak siapa ketahui akan hakikat itu.

    Berkata Imam Malik ; “Istawa – pada lughah – adalah maklum, kaifiyatnya majhul dan bertanya mengenai kaifiyatnya adalah bid’ah”. (Syarh usul al I’tiqad 3/98)

  4. Haahuna Says:

    Dalam ar-Risalah Imam ash-Shafi’i beliau mengatakan Imam Malik tersilap menamakan empunya jariyah tu sebagai Umar al-Hakam. Malah riwayat Muslim menamakan empunya jariyah sebagai MU’AWIYAH al-Hakam. Dan MEMANG Imam Muslim meletakkan hadith tu dalam bab larangan bercakap dalam solat.

    Ok anda ibaratkan langit seperti rumah di sekeliling bola yakni bumi. So langit kedua adalah rumah yang lebih besar di sekeliling rumah pertama tu & seterusnya hingga ke ‘Arsh. Kemudian di mana Allah?

    http://en.wikipedia.org/wiki/Concentric ?

    Apa yang sebenarnya Imam al-Baihaqi & Imam al-Qurtubi nak bagitau kita?
    http://livingislam.org/istiwa_e.html
    http://sunniforum.com/forum/showthread.php?t=14816

    Adakah tafwid al-ma’na tu salah?

    Jawaban:

    Tuan kelewatan, kerna saya telah nyatakn bahwa saya tidak merasa kecil hati kalu “Hadith Jariyah” ini didhaifkan kerna:

    1) Hadith ini diriwayat oleh sekian banyak ulama hadith – al jamah. sehingga mereka ini mengimani bahwa hadith tersebut statusnya sah.

    2) para salaf memiliki dalil berupa nash yang menghampiri 1000.

    maka berusahalah tuan-tuan untuk membatalkan setiap hujjah yang para salaf bawakan.
    😛

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: