Asya’irah Jahmiyah Mengimani Duelisme

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui segala yang masuk ke dalam bumi dan segala yang keluar darinya, segala yang turun dari langit dan segala yang naik ke sana, dan Dia beserta kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha Melihat apa yang kamu kerjakan”  [Al Hadid: 4]

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada [pembicaraan antara] lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada [pula pembicaraan antara jumlah] yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada beserta mereka di manapun mereka berada”  [al-Mujadalah: 58]

 

Dari ayat ini maka lahirlah satu keimanan, bahwa kalau tuhan itu berada di atas Langit bererti keabsahan ayat diatas hilang dan bererti juga bahwa al Quran saling berlawanan antara kandungannya; yang kedua-dua ini – satunya mengimani Tuhan di Arasy dan yang keduanya fenomena saling berantagonis adalah satu hal yang mustahil bagi Maha Suci Tuhan.

Justeru yang benarnya bagi penganut paham Asya’irah; bahwa Allah itu wujud tanpa mengambil tempat. Dan barangsiapa yang mengimani sebaliknya, termasuklah bahwa Allah itu istiwa di atas Langit bererti dia telah menjisimkan Tuhan, beraqidah persis Yahudi!

Keimanan seperti ini memang kita sebagai Ahlus Sunnah memahaminya – terbit dari Jahmiyyah, Asya’irah, Mu’tazilah, Syiah dan beberapa sekte lain -sehingga kita tidak kisah kalau merka memanggil kita sebagai mujassimah. Kerna para imam dari dahulu lagi telah menginagatkan kepada kita hal yang demikian; Imam Ishaq bin Rahawaih, Abu Hatim ar Razi, ash Shabuni, Ibnu Taimiyyah dan lainnya (Lihat Syarh Ushul I’tiqad I/204 oleh Imam al Lalikai, Aqidah ath Thahawiyah I/85, Minhajus Sunnah II/75 dan Aqidah Salaf hal. 116).

Imam ash Shabuni meriwayatkan dalam Aqidah Salaf halaman 116 bahwa Imam Ahmad bin Sinan al Qaththan rahimahullah pernah berkata: “Tidak ada seorang ahli bid’ah pun di dunia ini kecuali dia benci terhadap ahli hadits”

Makanya tak pelik kalau ada manusia pondokius yang selalu menyesatkan Salafi dengan alasan ini, kerna sebelum kita dikatakan sesat, para imam terdahulu sudah disesatkan mereka.

Memang orang sesat tak melihat jalan petunjuk, dan memandang orang yang tidak sesat sebagai manusia yang tersesat; walhal dirinya yang sesat tidaklah diketahuinya lantaran dia tidak menemukan hidayah dan basirh.

Tetapi yang lebih menakjubkan adalah apabila kita menyatakan bahwa para sufi yang bercokol dengan ajaran Hindu itu sebagai sesat dan menyesatkan; lantas mereka ini; Asya’irah – Jahmiyyah, membela mati-matian sehinggakan mereka mengatakan bahwa Ibn Arabi dan Hallaj sebagai mu’min dan syeikh kabir!

Maha Suci Allah dari kekufuran mereka berdua.

Pengiktirafan mereka kepada jalan sufi berupa satu yang sukar kita imani dan terima secara waras. Kalau saya ini gila, ya mungkin juga saya kan menerimanya.

Ini kerna keimanan “Wujud Allah” antara Aya’iran dan Sufi amat berseberangan, bertentangan dan saling menyalahkan – duelisme! Bagaiman dua pandangan yang saling bertilak belakang diterima dan disepakati kebenarannya?

Inilah yang bisa membikinkan manusia waras seperti kita kebingungan.

Asya’irah mengatakan bahwa Tuhan itu Wujud Tak Bertempat

Sufi mengatakan bahwa Wujud Tuhan itu pada semua makhluknya – ada di mana-mana.

Asya’irah beriman bahwa kalau tuhan itu bertempat mak kita telah menjisimkan tuhan, bererti bahwa sufi juga mujassimah pada kontek ini.

Sufi pula beriman bahwa kalau tuhan itu tidak ada dimana-mana, bererti bahwa tuhan itu tidak wujud, lantaran dalam pengertian sufi bahwa Allah adlah hakikat sedangkan makhluk adalah bayangan semata-mata.

Kerna itu Allah menyebutkan dalam Al Mujadalah: “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang keempatnya”, begitu juga ayat seterusnya: “Dan tiada [pembicaraan antara] lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya”. Mengapa tidak Allah gunakan “Dan tiada [pembicaraan antara] empat orang, melainkan Dia-lah yang kelimanya” atau “Dan tiada [pembicaraan antara] enam orang, melainkan Dia-lah yang ketujuhnya”?

Ini menunjukkan bahwa Allah melengkapkan kejadian makhluk, sehingga apa yang wujud di dunia ini sebenarnya adalah zat tuhan itu yang hakikat. Kalaulah campuran manusia dan tuhan menjadi angka ganjil, bereti bahwa Tuhan itu terpisah dengan makhluk, dan ini tidak dikhabarkan oleh Allah az zawajalla. Makhluk membutuhkan uhan tetapi Tuhan tidak membutuhkan manusia, tanpa sadar sebenarnya Tuhan juga membutuhkan kita untuk menjadi Sang Pencipta. Tanpa mansia, tuhan tak bererti, lalu untuk ada ertinya maka Tuhan menjadikan manusia.

Inilah paham sufi dalam melihat wujud Tuhan!

Lalu persoalannya, bagaimanakah para Jahmiyah Asya’irah seperti Al Kauthari, Abdullah Al Harari al Ahbashi, Hasan As Saqaf As Sy’ie, Nuh Ha Men Keller, Gf Haddad, Nizam Qubrusi as Sufi, Hisham Kabbani, keluarga Al Ghumari, dan seperti juga para penyangjung mereka di negara kita yang lantang mencela Salafi, bisa menerima sufi yang nyata menyalahi aqidah “Tuhan Wujud Tanpa Tempat”, dan dalam masa yang sama mereka menyesatkan paham Salaf?

Walhal; aqidah yang mereka anuti itu, tak ada sepotong hadith pun, malah tak ada sekerat ucapan para imam sahabat dan pra imam sesudahnya.

Begitu juga dengan aqidah sufi yang sekelian ulama menghukum kafir Ibn Arabi dan Hallaj, yang aqidah ini dibina tanpa ada sepotong hadith, atau atsar atau ucapan para imam, malah Imam Syafi’e sendir mencela sufi!

Lalu bagaiman mereka bisa menyesatkan Salafi, walhal kita memiliki hujjah tentang hal Allah Istiwa di Atas Lanit yang menghampiri jumlahnya 1000 dalil nash!

Akhirnya, benarlah kata Albani, sang ilmuan hadith; “Burung itu akan bersama dengan kelompoknya”

Apakah gagak yang hitam akan terbang bersama cenderawasih? pasti tidak. Dan apakah cenderwasih akan menerima gagak yang hitam? Pasti tidak. Lalu kerna despresi; gagak akan mencela cenderawasih dan kemudian gagak akan menganggap bahwa dirinya putih dan cenderawasih adalah hitam.

Mungkin ketika mereka pada peringkat awal, mereka menjadi mujassimah, dan kemudian apabila umur sudah tua dan muka sudah kerepot, maka kesedaran untuk menjiwai alam kerohanian Hindu pun menerpa lalu mereka menjadi politisme pula.

Justeru, Asya’irah Jahmiyah telah menjadi satu kelompok yang beriman dengan sistem Duelisme; bukan sahaja mereka ini sebenarnya mujassimah kerna melihat Tuhan dalam kerangka pandang seorang manusia, malah mereka juga mengimani Politisme.

Menjadi Asya’irah Jahmiyah maknanya menidakkan wujud tuhan kerna dari logik yang selalu mereka gunakan metodanya; sesuatu yang tidak wujud tidak perlukan tempat.

Menjadi Sufi bereti menyembah banyak tuhan malah termasuk diri sendiri; mengikut logik; kalau wujud tuhan ada dimana-mana dan Tuhan adalah pelengkap makhluk bererti bahwa diri sendiri juga adalah tuhan!

Akhirnya, mana satukah yang benar wahai Asya’irah Jahmiyah? Allah itu dimana-mana, atau Allah itu tidak bertempat? Atau keduanya kalian terima? Dan mengapa kalian tidak mahu tunduk kepada basirah – Allah Di Atas Arysh!

Satu Respons to “Asya’irah Jahmiyah Mengimani Duelisme”

  1. Haahuna Says:

    Allah swt istawa ‘alal-‘Arsy. Tetapi Dia juga nuzul ke langit dunya pada sepertiga akhir malam. Dan malam berlaku pada waktu berbeza mengikut tempat sebab bumi ni sfera. So pada setiap masa ada saja tempat di dunya ni yang melalui sepertiga akhir malam. Maka setiap masa ada saja tempat di mana Allah swt nuzul?

    Kalau mengikut al-Baqarah, ayat 115, di mana saja kita hadap, situlah wajah Allah? Ketika solat, kita tak boleh ludah sebab di depan kita adalah Allah? (Muttafaqun ‘alaih)

    Jawaban:

    Imam Syafi’e akan menghinakan kita dan mengarak kita keliling kota dengan penuh keaiban, andai kita menekuni ilmu kalam.

    Inilah cikal-bakal yang terlahir; persoalannya masih berlarutan dengan sekian akal-akalan, kemudian wujud lagi akal nya, kemudian datang lagi akalnya, hingga akhirnya ibarat cerita seribu tahun: “maka seluruh ikan pun terjaring dalam sebuah pukat gergasi, lalu kerna beratnya ikan semua itu maka terkoyak sedikitlah; seekor ikan keluar, seekor lagi, seekor lagi….. seekor lagi”, hinggalah memakan masa 1000 tahun untuk diceritakan.

    Tuan, maka kita berhentilah setakan mana par sahabat berhenti, begitulah kalimat para imam.

    Hudzaifah bin Al-Yaman ra berkata : Hai para Qari (pembaca Al-Quran) bertaqwalah kepada Allah, dan telusurilah jalan orang-orang sebelum kamu, sebab demi Allah, seandainya kamu melampaui mereka [para Sahabat], sungguh kamu melampaui sangat jauh, dan jika kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh-jauhnya. (Al-Lalikai 1/90 no.119; Ibnu Wudldlah dan Al-Bida’ wan Nahyu ‘anha 17; As-Sunnah Ibnu Nashr 30).

    Ibnu Mas’ud radliyallahu’anhu berkata : Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah ! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat. (Ibnu Nashr 28 dan Ibnu Wudldlah 17).

    Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : Berpeganglah kamu dengan ilmu (As-Sunnah) sebelum diangkat, dan berhati-hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah), dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu. (Ad-Darimy 1/66 no. 143; Al-Ibanah Ibnu Baththah 1/324 no. 169; Al-Lalikai 1/87 no.108 dan Ibnu Wadldlah 32).

    Imam Az-Zuhry berkata : Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan : Berpegang dengan As-Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama). (Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimy 1/58 no. 16).

    Imam al-Auza’i ra mengatakan, “Wajib bagi kalian untuk mengikuti jejak para salaf (sahabat), dan jauhilah pendapat akal orang-orang itu meskipun mereka menghias-hiasinya di hadapanmu dengan ucapan yang indah.” (As-Syari’ah 63)

    Ibnu Baththah berkata : Sungguh demi Allah, alangkah mengagumkan kecerdasan kaum itu, betapa jernihnya pikiran mereka dan alangkah tingginya semangat mereka dalam mengikuti sunnah nabi mereka, dan kecintaan mereka telah mencapai puncaknya hingga meraka sanggup untuk mengikutinya dengan cara seperti itu. Oleh sebab itu ikutilah tuntunan orang-orang berakal seperti mereka ini -wahai saudara-saudaraku-, dan telusurilah jejak-jejak mereka niscaya kalian akan berhasil, menang dan jaya. (Al-Ibanah 1/245)

    Imam adz-Dzahabi ra ketika memuji Imam ad-Daruquthni rahimahullah yang enggan untuk mendalami filsafat, beliau berkata, “Beliau [ad-Daruquthni] adalah seorang salafi.”

    Lalu ketika mana mereka berhenti dengan mengimani Allah istiwa di atas Langit tanpa penafian, tanpa penyerupaan, tanpa pertanyan, tanpa pembatalan. Mensucikan Tuhan tatkala Dia mensucikan Dirinya, Menetapkan Tuhan ketika Dia menetapkan Dirinya. Kerna kita semua ini hanya mengerti akan Dia lewat dalil yang disampaikan oleh Utusan Dia. Bukan lewat Rasio atau Aqal!

    Lalu kita berasa cukup dengan segala hujjah yang turun dari kolong langit, tenang hati dan mantap iman ini. Cukuplah itu sebagi pegangan kita.

    Lalu kita tanyakn kepada kaum Muslimin, datangkan hujjah kalian berupa al quran, hadith, atsar dan qaul para imam mu’tabar, yang mengatakan sebaliknya. dan bantahlah kami dengan sekian banyak dalil-dalil yang kami imani.

    tetapi kalu kalian sekadar mendatangkal aqal dan rasio, maka ketahuilah bahwa kalian adlah penyembah aqal sedangkan kami menyembah Allah.

    Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak halal baginya untuk meninggakan hal itu gara-gara mengikuti pendapat siapa saja.”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: