Keadilan: Laungan Khawarij!

“Hanya Allah jualah yang menetapkan hukum, Dia menerangkan kebenaran, dan Dialah sebaik-baik yang memberi keputusan” [Al An’am]

 

Menjelaskan hal ini Ali Ibn Abi Talib r.a. berkata: “Perkataan benar yang bertujuan batil (jahat)”  [Muslim, Dar Ihya’ at-Turath al-Arabiyy, Beirut, 1991, 2:749, No: 1066.]

 

 

Keadilan Dan Hukum adalah Slogam Khawarij

Sepanjang sejarah Umat Islam ini, sejak dari Muhammad Bin Abdillah, sang Utusan Allah, Rasulullah saw masih bernafas sehinggalah saat ini, dan akan terus menerus sehingga kiamat; kaum Khawarij akan berpegang pada slogan KEADILAN.

Bagi mereka, keadilan yang terabai merupakan bencana kepada umat. Ini memang benar tetapi neraca Adil pada mata mereka adalah berlainan dengan adilnya seorang Muslim.

Mereka adalah sebuah kaum yang menginginkan keadilan berlaku bagi seluruh umat, sampai-sampai sehingga ketua mereka menganggap Nabi saw tidak berlaku adil, khianat dan menzalimi umat.

 Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

 Lihatlah bagaimana Kaum Khawarij memandang keadilan sebuah kalimat yang sangat agung sehingga mereka bisa bermulut celupar menyelar Nabi telah zalim.

Lalu Nabi mengingatkan kepada sahabat baginda bahawa lelaki ini akan melahirkan sebuah kelompok yang sesat, yang amal ibadatnya cukup hebat tetapi mereka ini terpisah dari Islam semakin hari semakin jauh. Walaupun mereka menyangka bahawa mereka berada diatas kebenaran. Dan juga masyarakat sekita yang jahil turut menyangka bahawa ucapan mereka berupa sebuah sabda, ataupun sebuah kata yang cukup mulia.

Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]

Tetapi Allah memperingatkan bahawa manusia seperti mereka ini harus dibunuh seandainya kita terserempak dengan mereka, dan Allah menjanjikan pahala kepada kita. Walaupun mereka ini kuat ibadahnya sehingga bertompok warna kehitaman di dahi lantaran banyak bersujud dan cengkung wajah mereka kerana banyak menangis kepada Allah.

Kerana apa?

Kerana wacana pemikiran Khawarij ini sangat berbahaya. Mereka melagukan sebuah kata yang cukup mulia, indah yang menjadi keinginan seluruh manusia – KEADILAN. Lalu dengan kalimat itu mereka membunuh dan berperang, meruntuhkan kerajaan Islam dan menyesatkan dan mengkafirkan umat.

Lantaran itulah Allah memerintahkan kita untuk menghapuskan mereka dan memberi ganjaran pahala kepada kita.

 

Munculnya Khawarij

Lalu setelah wafatnya Baginda, dan berlalunya zaman Umar, tatkala Uthman mati dibunuh oleh kaum pemberontak maka Kerajaan Islam diwariskan kepada Ali ra dalam keadaan yang kucarkacir. Setelah itu berlakulah peperangan antara 2 kelompom Islam, Perang Jamal dan Siffin. Setelah berlalunya pertumpahan darah – perang saudara yang pertama ini, maka kaum Khawarijpun menjelma lalu memisahkan diri dari kerajaan Islam dan berkumpul di Nahrawan.

Ketika muncul kelompok Haruriyah (Khawarij) mereka memisahkan diri di suatu perkampungan, mereka berjumlah 6000 orang dan bersepakat untuk menyempal (memberontak) dari Ali ra. Orang-orang selalu mendatangi Ali ra dan berkata :

“Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya kaum tersebut akan memberontak kepadamu”.

Lalu beliau menjawab : “Biarkan mereka karena saya tidak akan memerangi mereka sampai mereka memerangi saya dan mereka akan melakukannya”.

Pada suatu hari saya (Ibnu Abbas) mendatanginya sebelum shalat zuhur dan aku berkata kepada Ali ra:

“Wahai Amirul Mukminin akhirkan shalat agar saya dapat mengajak bicara mereka. Beliau berkata : Saya mengkhawatirkan mereka mencelakai kamu. Saya menjawab : Tidak akan, karena saya seorang yang berakhlak baik dan tidak pernah menyakiti seorangpun. Lalu beliau mengizinkan saya, maka saya mengenakan pakaian yang paling bagus dari pakaian Yaman dan menyisir rambut saya kemudian aku menemui mereka di perkampungan mereka di tengah hari sedang mereka sedang makan, lalu saya menemui satu kaum yang saya tidak pernah menemukan kaum yang lebih bersungguh-sungguh (dalam ibadah) dari mereka, dahi-dahi mereka hhitam dari sujud, tangan-tangan mereka kasar seperti kasarnya unta dan mereka mengenakan gamis-gamis yang murah dan tersingkap serta wajah-wajah mereka pucat menguning. Lalu saya memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab :

“Selamat datang wahai Ibnu Abbas, pakaian apa yang engkau pakai ini ?!”

Saya menjawab : “Apa yang kalian cela dariku ? Sungguh saya telah melihat Rasululla saw sangat bagus sekali ketika mengenakan pakaian Yaman, kemudian membacakan firman Allah swt;

“Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambanNya dan (siapa pulakah yang menharamkan) rezki yang baik” [Al-A’raaf : 32]

Lalu mereka berkata : “Apa maksud kedatangan engkau?”

Saya katakan pada mereka : “Saya mendatangi kalian sebagai utusan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Muhajirin dan Anshar dan dari sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menantunya sedangkan Al-Qur’an turun pada mereka sehingga mereka lebih mengetahui terhadap ta’wilnya dari kalian dan tidak ada di kalangan kalian seorangpun dari mereka ; sungguh saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang mereka sampaikan dan saya akan sampaikan kepada mereka apa yang kalian sampaikan.

Lalu berkata sekelompok dari mereka : “Janganlah kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah saw berfirman :

“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar” [Az-Zukhruf : 58]

Kemudian bangkit kepadaku sebagian dari mereka dan berkata dua atau tiga orang : “Sungguh kami akan mengajak bicara dia”.

Saya berkata : “Silahkan, apa dendam kalian terhadap para sahabat Rasulullah dan sepupunya?”.

Mereka menjawab : “Tiga”.

Saya katakan : “Apa itu ?

Mereka mengatakan : “Yang pertama karena dia berhukum kepada orang dalam perkara Allah swt sedangkan Allah swt berfirman.”Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…” [Al-An’am : 57]

Saya katakan : “Ini satu”.

Mereka berkata lagi : “Yang kedua karena dia berperang dan tidak menawan dan merampas harta (yang diperangi), kalau mereka kaum kafir maka halal menawannya dan kalau mereka kaum mu’minin maka tidak boleh menawan mereka dan tidak pula memerangi mereka”.

Saya katakan : “Ini yang kedua dan apa yang ketiga?”

Mereka berkata : “Dia menghapus gelar Amirul Mu’minin dari dirinya, maka jika dia bukan Amirul Mu’minin, dia Amirul Kafirin”.

Saya katakan : “Apakah masih ada pada kalian selain ini?”

Mereka menjawab : “Ini sudah cukup”.

Saya katakan kepada mereka : “Bagaimana pendapat kalian kalau saya bacakan kepada kalian bantahan atas pendapat kalian dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya saw, apakah kalian mau kembali ?”

Mereka menjawab : “Ya”.

Saya katakan : “Adapun pendapat kalian bahwa dia (Ali) berhukum kepada orang (manusia) dalam perkara Allah maka saya bacakan kepada kalian ayat dalam kitabullah di mana Allah menjadikan hukumnya kepada manusia dalam menentukan harga 1/4 dirham, lalu Allah memerintahkan mereka untuk berhukum kepadanya. Apa pendapatmu tentang firman Allah :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu” [Al-Maa’idah : 95]

Dan hukum Allah diserahkan kepada orang (manusia) yang menghukum dalam perkara tersebut, dan kalau Allah kehendaki maka dia menghukumnya sendiri, kalau begitu tidak mengapa seseorang berhukum kepada manusia, demi Allah swt apakah berhukum kepada manusia dalam masalah perdamaian dan pencegahan pertumpahan darah lebih utama ataukah dalam perkara kelinci [arnab] ?”

Mereka menjawab : “Tentu hal itu lebih utama”.

Dan Allah swt berfirman tentang seorang wanita dan suaminya; “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan” [An-Nisaa’ : 35]

Demi Allah swt apakah berhukum kepada manusia dalam perdamaian dan mencegah pertumpahan darah lebih utama dari berhukum kepada manusia dalam permasalahan wanita ?! Apakah saya telah menjawab hal itu ?”

Mereka berkata : “Ya”

Saya katakan : Pendapat kalian : “Dia berperang akan tetapi tidak menawan dan merampas harta perang”. Apakah kalian ingin menawan ibu kalian Aisyah yang kalian menghalalkannya seperti kalian menghalalkan selainnya, sedangkan beliau adalah ibu kalian ? Jika kalian menjawab : Kami menghalalkannya seperti kami menghalalkan selainnya maka kalian telah kafir dan jika kalian menjawab : Dia bukan ibu kami maka kalian telah kafir, Allah swt berfirman.”Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka” [Al-Ahzab : 6]

Maka kalian berada di dua kesesatan, silakan beri jalan keluar ; Apakah saya telah menjawabnya ?Mereka berkata : Ya.Sedangkan masalah dia (Ali Radhiyallahu ‘ahu) telah menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya, maka saya akan datangkan kepada kalian apa yang membuat kalian ridha, yaitu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari perjanjanjian Hudaibiyah berdamai dengan kaum musyrikin, lalu berkata kepada Ali :

“Hapuslah wahai Ali (tulisan) Allahumma Inaaka Ta’alam Ani Rasulullah (wahai Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah) dan tulislah (kalimat) Hadza ma Shalaha Alaihi Muhammad bin Abdillah (ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdillah)”

Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh Rasulullah saw lebih baik dari Ali dan beliau menghapus (gelar kerasulannya) dari dirinya dan tidaklah penghapusan tersebut berarti penghapusan kenabian dari dirinya.

Apakah aku telah menjawbnya ?

Mereka berkata : “Ya”

Kemudian kembalilah dari mereka dua ribu orang dan sisanya memberontak dan berperang diatas kesesatan mereka lalu mereka diperangi oleh kaum Muhajirin dan Anshar.

[Shahih, lihat takhrijnya dalam kitab : Munaadzaraatussalaf Ma’a Hizbi Iblis wa Afrokhil Kholaf, hal.95 penerbit Dar Ibnil Jauziy, Damam]

Itulah bermulanya pembentukan jamaah Khawarij dalam sebuah sejarah Islam. Walaupun mereka ini habis dibunuh oleh tentera Islam namum benih pemikiran ini akan sentiasa wujud sehingga hari kiamat.

Untuk itu, bagi setiap lipatan sejarah Umat Islam dapat kita lihat bangunnya sebuah kelompok yang menentang kerajaan Islam menggunakan kalimat KEADILAN sepertimana lelaki tadi mencela Nabi saw yang dianggapnya tidak berlaku adil.

 

Mereka Kuat Beribadah Tetapi Sesat

Mungkin bagi masyarakat awam, kaum khawarij ini telah tiada. Namum hakikatnya ia tetap ada para setiap zaman, pada setiap kota dan pada setiap tempat.

Mereka ini bukanlah kaki pukul, kaki todi, sebaliknya mereka ini selalunya adalah guru agama. Mereka bukannya jahil sehingga tidak mengenal antara tiang dan huruf alif. Mereka bukanlah wanita yang berskrt tetapi berbaju labuh. Lelakinya bukan bertopi koboi tetapi berketayap dan bersorban.

Malah ibadah mereka jauh lebih banyak ketimbang ibadah sahabat Nabi saw

“Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang mana bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun, tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun, dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun”. (Muslim II/743-744 No. 1064)

Dalam Fathu Al-Bari, XII/283 disebutkan :”Mereka (Khawarij) dikenal sebagai qura’ (ahli membaca Al-Qur’an), karena besarnya kesungguhan mereka dalam tilawah dan ibadah, akan tetapi mereka suka menta’wil Al-Qur’an dengan ta’wil yang menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Mereka lebih mengutamakan pendapatnya, berlebih-lebihan dalam zuhud dan khusyu’ dan lain sebagainya”.

Berkata Ibnul Jauzi :”Ketika Ali Radhiyallahu ‘Anhu meninggal, dikeluarkanlah Ibnu Maljam untuk dibunuh. Abdullah bin Ja’far memotong kedua tangan dan kedua kakinya, tetapi ia tidak mengeluh dan tidak berbicara. Lalu dicelak kedua matanya dengan paku panas, ia pun tidak mengeluh bahkan ia membaca:  “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (Al-‘Alaq : 1-2).

Hingga selesai, walaupun kedua matanya meluluhkan air mata. Kemudian setelah matanya diobati, ia akan di potong lidahnya, baru dia mengeluh. Ketika ditanyakan kepadanya :”Mengapa engkau mengeluh ?. “Ia menjawab ;”Aku tidak suka bila di dunia menjadi mayat dalam keadaan tidak berdzikir kepada Allah”. Dia adalah seorang yang ke hitam-hitaman dahinya bekas dari sujud, semoga laknat Allah padanya”. (Tablis Iblis, hal. 94-95).

Oleh kerana kuatnya ibadah mereka menyebabkan masyarakat menyangka bahawa kaum Khawarij adalah benar. Walhal mereka ini sangatlah cetek pengetahuan akan ilmu-ilmu Islam dan mereka sangat menyombong diri. Sehinggakan mereka menganggap bahawa merekalah yang paling tahu berbuat keadilan dan kebenaran.

 

Mereka Bodoh Ilmu Islam Tetapi Berlagak Pandai

Membaguskan perkataannya tetapi buruk perbuatannya …. Mengajak kepada kitab Allah, tetapi tidaklah mereka termasuk di dalamnya sedikit pun”. (Hadits Riwayat Ahmad, III/224).

Al-Azraq Ibn Qais meriwayatkan: Maksudnya: “Kami sedang berada di tebing sungai Ahwaz (di Iraq) untuk memerangi puak Haruriyyah, tiba-tiba Abu Barzah Al-Aslamiyy datang menunggang kuda lalu bersolat sambil melepaskan (tali) kudanya. Tiba-tiba kuda itu meninggalkannya lantas beliau menghentikan solat dan mengejarnya sehingga dapat. Kemudian, beliau datang semula untuk menunaikan solatnya. Seorang lelaki khawarij berkata: “Ya Allah! binasakanlah orang ini, dia telah meninggalkan solatnya kerana seekor kuda”. Abu Barzah tampil seraya berkata: Sesungguhnya aku dengar kata-kata kamu, semenjak Rasulullah s.a.w. wafat tiada seorang pun yang bercakap kasar denganku, sesungguhnya aku pernah menyertai enam hingga lapan peperangan bersama Rasulullah s.a.w. dan aku telah menyaksikan (pendekatan) taysir baginda (dalam ibadat), sesungguhnya aku lebih suka pulang bersama binatang tungganganku daripada membiarkannya kembali ke tempatnya sehingga menyusahkanku, sesungguhnya jarak rumahku jauh, jika aku solat dan biarkan nescaya aku tak dapat kembali kepada keluargaku sampai ke malam” Al-Bukhari, No: 1153 dan 5776

Lihatlah bahawa mereka ini sepertinya mempunyai ilmu Islam tetapi apabila pendapat mereka ditimbang dengan al quran dan hadith serta pemahaman sahabat, nyata bahawa pemikiran mereka jauh menyimpang.

Namum mereka ini suka membaluti kebodohan mereka dengan berlagak pandai, dan suka menyulitkan agama.

Dalam sebuah hadith, seorang perempuan bernama Ma’azah berkata: “Aku bertanya Aishah r.a. kenapa wanita haid wajib qada (ganti) puasa tetapi tak perlu ganti solat”? Lalu beliau bertanyaku: “Adakah kamu seorang haruriyyah”? Aku menjawab: “Aku bukan dari golongan haruriyyah cuma saja aku nak tanya”. Lalu beliau menjawab: “Kami datang haid (pada zaman Nabi s.a.w.) lalu kami disuruh supaya qada puasa dan kami tidak disuruh supaya qada solat” Al-Bukhari, No: 315 dan Muslim, No: 335

Sehinggakan mereka ini suka melakukan Bid’ah Hasanah lantaran kejahilan mereka yang bertompok-tompok.

Abu Musa Al-Asy’ari r.a. memberitahu Ibn Mas’ud r.a. bahawa beliau melihat di masjid sekumpulan lelaki sedang duduk dalam halaqah-halaqah (bulatan) zikir untuk bertakbir, bertahlil dan bertasbih denganmenggunakan biji-biji batu mengikut cara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan juga para Sahabat r.a.. Mendengar yang demikian itu, Ibn Mas’ud menuju ke masjid itu lantas menegur mereka dengan katanya: “Hitunglah amalan buruk kamu itu kerana aku jamin bahawa amalan baik kamu tidak akan hilang sedikitpun. Celakalah kamu wahai umat (Nabi) Muhammad! Alangkah cepatnya kebinasaan kamu, para Sahabat Nabi s.a.w. masih ramai, baju baginda inipun masih belum hancur dan bekas makanannya pun belum pecah. Demi yang nyawaku di TanganNya! Adakah sesungguhnya kamu berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kamu sebenarnya pembuka pintu kesesatan?” Mendengar kata-kata Ibn Mas’ud itu, mereka menjawab: “Demi Allah! wahai Abu Abd Ar-Rahman29! Tujuan kami hanya untuk kebaikan”. Mendengar jawapan mereka itu, lalu Ibn Mas’ud berkata: “Berapa ramai orang yang bertujuan baik tetapi tidak kena (caranya). Sesungguhnya Rasulullah SAW memberitahu kami: “Bahawa ada satu kaum yang membaca al-Quran tidak melebihi kerongkong mereka”30. Demi Allah! Aku tak tahu boleh jadi kebanyakan mereka itu adalah dari kalangan kamu”. Menjelaskan kata-kata Ibn Mas’ud ini, Amr Ibn Salamah31 berkata (maksudnya): “Kami melihat semua lelaki yang berada dalam halaqah itu menyertai puak Khawarij lalu menyerang kami pada hari peperangan An-_ahrawan” Ad-Darimi, cAbd Allah Ibn cAbd Ar-Rahman, Sunan Ad-Darimi, Dar Al-Kitab Al-cArabi, Beirut, Lubnan, 1407, 1: 79, No: 204. Sanadnya sahih.

Justeru amal ibadah mereka yang mereka lakukan itu tidak terangkat sedikit pun kepada Allah malah merupakan dosa dan kejahatan.

Sabda Nabi : “…Mereka membaca al-Quran dengan lunak tetapi ia tidak melepasi halqum mereka…”.

Imam an-Nawawi memetik kata-kata al-Qadi ‘Iyad bahawa ia membawa dua pengertian, pertama: hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak mendapat manfaat daripada bacaan mereka dan kedua: segala amalan dan bacaan mereka tidak diangkat dan tidak diterima [An-Nawawi, Yahya Ibn Sharaf, al-Minhaj Fi Sharh Sahih Muslim Ibn al-Hajjaj, al-Matba’ah al-Misriyyah, Kaherah, Mesir, 1929, 7:159].

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadith-hadith berkenaan Khawarij ini di bawah beberapa judul bab, antaranya: “Bab (pada menyatakan): dosa orang yang membaca al-Quran untuk riya’, mencari makan dengannya atau berbangga dengannya” dan “Bab (pada menyatakan): bacaan orang jahat dan munafiq serta suara mereka dan bacaan mereka tidak melepasi halqum mereka”.

 

Mengkafirkan Umat Islam, Menyesatkan Dan Menentang Kerajaan Islam

Khawarij akan selalu menyesatkan kaum Muslimin, mengkafirkannya dan memerangi Kerajaan Islam lantaran bagi mereka kaum Muslimin telah tersesat apabila tidak berpijak pada keadilan dan hukum tuhan.

Sabda Nabi :  “…Mereka memerangi orang Islam tetapi membiarkan saja para penyembah berhala”. Ibn Umar r.a. mengangap mereka sebagai sejahat-jahat makhluk dan beliau (Ibn Umar) berkata: “Mereka mencari ayat-ayat al-Quran yang ditujukan kepada orang kafir tetapi mereka tujukannya kepada orang beriman” Al-Bukhari (secara ta’liq dengan lafaz jazam), Dar al-Macrifah, Beirut, t.th, 12:282

Benarlah hadith tersebut, kerana mereka telah banyak membunuh sahabat, tabi’in dan itba at tabiin:

“Dalam perjalanannya, orang-orang Khawarij bertemu dengan Abdullah bin Khabab. Mereka bertanya :”Apakah engkau pernah mendengar dari bapakmu suatu hadits yang dikatakan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ceritakanlah kepada kami tentangnya”. Berkata : “Ya, aku mendengar dari bapakku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang fitnah. Yang duduk ketika itu lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari pada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Jika engkau menemukannya, hendaklah engkau menjadi hamba Allah yang terbunuh”. Mereka berkata :”Engkau mendengar hadits ini dari bapakmu dan memberitakannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. Beliau menjawab :”Ya”. Setelah mendengar jawaban tersebut, mereka mengajaknya ke hulu sungai, lalu memenggal lehernya, maka mengalirlah darahnya seolah-olah seperti tali terompah. Lalu mereka membelah perut budak wanitanya dan mengeluarkan isi perutnya, padahal ketika itu sedang hamil. Kemudian mereka datang ke sebuah pohon kurma yang lebat buahnya di Nahrawan. Tiba-tiba jatuhlah buah kurma itu dan diambil salah seorang di antara mereka lalu ia masukkan ke dalam mulutnya. Berkatalah salah seorang di antara mereka. “Engkau mengambil tanpa dasar hukum, dan tanpa harga (tidak membelinya dengan sah)”. Akhirnya ia pun meludahkannya kembali dari mulutnya. Salah seorang yang lain mencabut pedangnya lalu mengayun-ayunkannya. Kemudian mereka melewati babi milik Ahlu Dzimmah, lalu ia penggal lehernya kemudian di seret moncongnya. Mereka berkata, “Ini adalah kerusakan di muka bumi”. Setelah mereka bertemu dengan pemilik babi itu maka mereka ganti harganya”. (Lihat Tablis Iblis, hal. 93-94).

Begutulah keadaan mereka, membunuh umat Islam, kemudian mereka mengkafirkan kerajaan Islam dan masyarakatnya.

Imam Bukhari berkata :”Adalah Ibnu Umar menganggap mereka sebagai Syiraaru Khaliqah (seburuk-buruk mahluk Allah)”. Dan dikatakan bahwa mereka mendapati ayat-ayat yang diturunkan tentang orang-orang kafir, lalu mereka kenakan untuk orang-orang beriman”. (Lihat Fathul Baari, XII/282).

Ketika Sa’id bin Jubair mendengar pendapat Ibnu Umar itu, ia sangat gembira dengannya dan berkata: “Sebagian pendapat Haruriyyah yang diikuti orang-orang yang menyerupakan Allah dengan mahluq (Musyabbihah) adalah firman Allah Yang Maha Tinggi.
” Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al-Maaidah : 44).

Dan mereka baca bersama ayat di atas : “Kemudian orang-orang yang kafir terhadap Rabb-Nya memperseku-tukan”. (Al-An’aam : 1).

Jika melihat seorang Imam menghukumi dengan tidak benar, mereka akan berkata :”Ia telah kafir, dan barangsiapa yang kafir berarti menentang Rabb-Nya dan telah mempersekutukan-Nya, dengan demikian dia telah musyrik”. Oleh karena itu mereka melawan dan memeranginya. Tidaklah hal ini terjadi, melainkan karena mereka menta’wil (dengan ta’wil yang keliru, pen) ayat ini…”.

Berkata Nafi’:”Sesungguhnya Ibnu Umar jika ditanya tentang Haruriyyah, beliau menjawab bahwa mereka mengakfirkan kaum muslimin, menghalalkan darah dan hartanya, menikahi wanita-wanita dalam ‘iddahnya. Dan jika di datangkan wanita kepada mereka, maka salah seorang diantara mereka akan menikahinya, sekalipun wanita itu masih mempunyai suami. Aku tidak mengetahui seorangpun yang lebih berhak diperangi melainkan mereka”. (Lihat Al-I’tisham, II/183-184).

 

KGB – Khawarij Gaya Morden

Oleh itu, seandainya wujud sebuah kelompok Islamis yang melagukan Tiada Hukum Melainkan Hukumk Allah” maka waspadalah daripadanya. Kerna kita khuwatir jamaah tersebut merupakan jamaah yang diasaskan oleh Dzul Khuwaishirah – bapa Khawarij Klasik.

Sekarang ini telah ada banyak kelompok yang sering menganggap kafir manusia yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Malah mereka mengkafirkan kerajaan Islam. Lalu oleh kerana mereka telag menganggap bahawa kerajaan itu sudah kafir maka mereka bangun menentangnya secara lisan, psikologi dan kuasa.

Al-lmam Asy-Syahrastani rahimahullah (w. 548 H) sendiri dalam kitabnya Al-Milal wan Nihal di atas (I/132) menegaskan:

“Setiap orang yang memberontak kepada imam (penguasa) yang sah dan telah disepakati kaum muslimin maka dia disebut sebagai khawarij. Sama saja, apakah dia memberontak pada masa shahabat kepada Al-A’immah (Al-Khulafa’) Ar-Rasyidm, atau setelah mereka pada masa tabi’in maupun (pemberontakan) terhadap para imam (penguasa) di setiap zaman.”

Perhatikan pula penegasan Al-lmam Al-Barbahari rahimahullah (w. 329 H) dalam Syarhus Sunnah (no. 34):

“Barangsiapa yang memberontak kepada salah satu penguasa dari para penguasa kaum muslimin maka dia adalah khawarij, dan berarti dia telah memecah belah kesatuan kaum muslimin serta menentang sunnah. Matinya pun dalam keadaan mati jahiliyyah.”

 Justeru itu parti Islam diseluruh negara yang menentang kerajaan Islam yang sah harus menginsafi diri dan bertaubat. Kerna mereka telah jatuh pada kubangan Khawarij. Malah ciri-ciri mereka yang telah dinukilkan oleh hadith-hadith banyak yang melekat pada diri mereka. 

Apakah mereka sang Khawarij itu bisa bersikap adil dengan hati mereka seandainya beristeri 4? Apakah mereka bisa berlaku adil terhadap seluruh keluarga mereka yang berjumlah banyak? Lantas apakah mungkin seorang manusia yang tidak ma’sum mampu bersikap adil kepada 27 juta umat?

Mereka bisa bergabung dengan Kafir Harbi yang nyata menentang Islam namum mereka mengkafirkan saudara mereka yang bersyahadah dan bersolat.

Semuanya berpunca dari ceteknya ilmu mereka dan jauhnya mereka dari sunnah baginda, serta betapa sombongnya mereka dari nasihat para ulama’.

Khawarij, telah Tuahn siapkan untuk setiap zaman, sebagai sebuah wadah untuk ke neraka. Apakah dia mursyidul Am, atau Tok Guru, atau Haji, atau bekas Imam Masjid Negara, semuanya tidak terlepas kerna di jalan Khawarij itu telah bertenggek setan yang melagukan “Keadilan Dan Hukum Hanya Milik Allah”.

Advertisements

Satu Respons to “Keadilan: Laungan Khawarij!”

  1. perihatin Says:

    salam
    sungguh kecut perut membaca tulisan tuan yang berani dan kritikal.
    Tak ragu bahawa kumpulan khawarij ini seperti kumpulan orang munafiq, tidak dibunuh oleh Rasul SAW kerana takut nanti dia dituduh membunuh sahabat,Ini kerana zahirnya ok tapi hatinya ko. Bahkan dikatakan gulungan khawarij (K) ini melampau , extrem dam berlebeh2 dalam ibdat zahirnya, puasa dan baca quran (tanpa pemahaman tadabur yang benar).

    Kumpulan K ini mungkin ada di mana2 masyarakat dan negara dengan melihat ciri2nya. Sayangnya kita tidak ada kumpulan ahli sunnah hakiki (S) yang dapat mengenal pasti dan memerangi mereka.

    Kumpulan K ini mungkin ada dalam negara Syiah, negara republik Islam, negara beraja, bahkan di negara sekular lainnya atau yang mendakwa negara Islam. Masaalahnya kalaulah pemerintah negara2 ini memang kerajaan S, yang mengikut sunnah dalam pemerintahnya , dalam penubuhan awal dan pemilihan pemerintah selanjutnya maka agaknya mungkin menentang gulungan K ini menjadi satu jihad suci atas dasar memelihara S. Bagaimana halnya jika kedudukan pemerintah ini tidak jelas S nya. Ketika itu jika kita atau sekumpulan kecil sahaja yang menuduh dan memusuhi kumpulan K mungkin tidak adil tanpa mendakwah mereka supaya mengikut S.

    Ini terutamanya lebih rumit dalam menghukum kerana kumpulan yang kita anggap K bertindak dalam landas demokrasi, rule of game untuk menggantikan pemerintah sedia ada yang juga naik atas rule of game yang sama.

    saya rasa prioritas kita adalah untuk menegakkan kefahaman S yang sebenarnya dalam negara. Sebarang percanggahan patut kita tentang atas dasar pemikiran dan tidak cop gulungan tertentu sebagai K.
    Bagaimana.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: