Ketika Mengucapkan “Aku Asya’irah – Maturidiyah”

Mungkin barangkali kita tak akan ketemu dengan orang yang akan mengaku “Aku Mu’tazili”. Atau tak akan kita jumpa seorang lelaki bangun dan berteriak “Aku Jahmiyah”.

Tetapi mungkin saja kita akan berjumpa seseorang yang akan berkata “Aku Syi’e” ketika dia dalam lingkungan orang jahil tetapi ketika dia bersama orang yang mengerti lantas dia menukar pengakuannya “Aku Sunni!”. Syiah memang mengimani hipokrasi – taqiyah. Beriman itu bila hipokrasi dan berhipokrasi itu adalah sebahagian dari beriman.

Namun di sana ada sekelumpuk manusia yang bersyahadah, yang Muslim; mereka dengan penuh keyakinan berucap “Bahawa saksikanlah aku seorang Ahlus Sunnah yang bermazhab Asya’ariyyah – Maturidiyah”.

Hanya mereka lah yang bisa berkata begitu dalam kelompok manusia Islam.

Saudara, baik kiranya kita merenung kenyataan “Aku Asya’irah – Maturidiyah” dari beberapa sisi, guna untuk memantapkan keimanan kita. Kalau ucapan ini benar adanya, maka harus kita tetap bersikap kokoh, tetapi andai ucapan ini nyata mengandungi syubhat maka harus kita meninggalkan ucapan ini dan kembali kepada sunnah.

Pertama

Soalan ini berkisar tentang hakikat mazhab Asya’irah – Maturidiyah itu sendiri.

Harus kita tanyakan kepada orang yang mengaku bermazhab Asya’irah Maturidiyah:

 

“Apa dasar ajaran kalian sehingga kalian berbeza dengan Mu’tazilah, Jahmiyah dan Kulabiyah? Dan apa pula persamaan kalian dengan aqidah bertiga tadi”?

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Kemudian apakah yang kalian ketahui tentang ajaran-ajaran Abu Mansur Al Maturidi sehingga menyebabkan kalian berani mengklaim bahwa kalian beriman dengan metoda yang beliau bangunkan”?

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Kemudian apakah beda antara Asya’irah dan Maturidiyah”?

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Akhirnya mengapakan mazhab kalian ini harus disandingkan dengan Maturidi sehingga menjadi “Asya’irah – Maturidiyah”?

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

Lalu akhirnya kalian hanya duduk termanggu memikirkan soalan yang dilontarkan ini.

Pemikiran mereka akhirnya akan menuju kepada satu kenyataan; kenyataan yang sangat pahit tetapi mereka tidak mengambil pelajaran kerna keegoan dan nafsu itu telah menguasai merekan: “Sesungguhnya aku tak tahu tetapi aku harus tetap mengaku sebagai Ahlus Sunnah yang mengikut Asya’ariyah – Maturidiyah!”.

 

Kedua

Soalan kedua ini berkaitan dengan Imam Syafi’e dan ulama-ulama salafus Soleh yang lain.

“Mengapa kalian tidak cukupkan saja dengan mengatakan “kami beraqidah Islam, tetapi  menggunakan nama mazhab yang dibangunkan oleh Imam Asya’ari dan Abu Mansur Al Maturidi?”

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

“Apakah ini bermakna bahawa setelah kewafatan Baginda, aqidah Islam yang murni telah sirna [lenyap] sekitar 300 tahun, sehingglah Allah membangkitkan 2 manusia iaitu Imam Asya’ari dan Abu Mansur Al Maturidi?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Seandainya kalian mengatakan bahwa kalian mengambil metoda Imam Asya’ari dalam pelajaran aqidah, bererti para imam lain yang sebelumnya tidak pernah menyimpulkan pelajaran aqidah dalam satu disiplin yang kokoh? Atau para imam sebelum itu langsung tak berjaya menyelesaikan pelajaran aqidah sehingga mereka tak mampu membuat usul aqidah sepertimana yang telah dibuat oleh 2 panutan kalian?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Kalian beriman bahawa Imam Syafi’e berjaya menjadi manusia pertama yang mendisiplinkan ilmu Usul Fiqh dan Qawaid Fiqhiyah, yang sedia maklum bahawa ilu ini adalah satu ilmu yang tinggi. Lalu apakah kalian beriman juga bahawa Imam Syafi’e tidak berjaya mendisiplinkan ilmu aqidah, padahal sebelum para Imam menekuni ilmu islam mereka harus menelaah ilmu aqidah?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.
Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

“Kalau kiranya kalian mengatakan bahawa Imam Syafi’e tidak pernah membahaskan hal-hal aqidah, bererti kalian dusta. Kalau kalian mengakui bahawa Imam Syafi’e ada mengajakan aqidah, dan telah mantap dalam usul aqidah, maka mengapa kalian masih tidak mahu mengikut usul aqidah Imam Syafie?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Apakah kalian merasakan bahawa usul aqidah Imam Syafi’e ad cacat celanya sehingga kalian tidak mahu mengambilnya dan beralih kepada manusia selepas beliau?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Dan apakah ada perbezan antara usul aqidah Imam Syafi’e dengan 2 panutan kalian tadi – Imam Asya’ai dan Abu Mansur Al Maturidi?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

“Kalau tiada perbezaan, maka mengapa kalian tidak mahu mengucapkan sebegini: “Aku Sunni, beraqidahkan mazhab Syafi’e, dan juga berfiqihkan mazhab Syafie?”

 

Kalian harus menjawabnya dengan betul agar terbukti bahawa kalian adalah seorang Sunni – Asya’irah Maturidiyah, dan bukannya orang yang tak mengerti apa-apa tetapi manusia yang paling cepat mengaku “aku benar”.

Kalau kalian tak mengetahui, atau langsung tak bisa menjawabnya, maka baik kiranya kalian tunduk patuh pada al Qur’an, as Sunnah dan faham Salaf as Soleh.

 

Ketiga

Kita sedia maklum bahawa Dasar Agama – Epistimologi Islam itu hanyalah 3: Al Quran, As Sunnah, pemahaman Para Sahabat. dan yang sesudahnya itu hanya akan diambil apabila sesuatu masalah itu tiada penghujahan dari 3 sumberutama tadi; seperti qiyas, mazhab madinah, ittisan, urus dan beberapa lagi.

Maka kita akan bertanya soalan-soalan berdasarkan masdar islam.

“Sekiranya ketua kampung kamu mengatakan bahawa A, tetapi mufti kamu mengatakan B, manakah yang kamu akan ikuti?”

Pasti kamu akan mengimani B, kerna ia lahir dari mufti kalian.

“Sekiranya Mufti kalian mengatakan B, namun kamu juga mengetahui bahawa Imam Ramly atau Imam Nawawi atau Imam Syafi’e mengatakan C, maka siapakah yang akan kamu ikuti?”

Pasti kamu akan mengikuti Imam Mazhab kalian iaitu C dan meninggalkan mufti kalian.

“Baiklah, sekiranya Imam Syafi’ie mengatakan C tetapi Ibn Abbas mengatakan D, siapakh yang akan kamu ikuti?”

Pasti kamu akan mengatakan bahawa “Kami mengikuti Ibn Abbas dan meninggalkan fatwa Imam Syafi’e, iaitu kami beriman akan D”>

Tapi ini selalunya hanyalah bicara kosong kalian, yang kalian sendiri tak pernah buktikan bahawa kalian akan mengikuti atsar dan meninggalkan fatwa imam kalian yang menyalahi atsar!

“Sekiranya Ibn Abbas mengatakan bahawa D tetapi Rasulullah mengatakan E, apakh yang kalian akan lakukan?”

Pasti kalian sekali lagi akan berkata: “Kami mengikut Rasulullah kerna beliau mendapat wahyu, dan beliau terlindung dari kesalahan dalam menyampaikan risalah. Padahal para sahabat itu bisa benar dan bisa salah.

Tetapi untuk kalian kokoh memihak kepada jawaban yang benar, itu adalah amat sulit sekali, kerna dalam diri kalian ada sedikit perasaan “taqlid” mazhab.

Bagi kalian, apa saja fatawa mazhab kalian adalah benar, seperti dustur ilahi – sebuah wahyu yang turun tadi langit – tak ada kesalana dan mustahil fatwa itu salah!

Ia seolah-olah kalian telah memberikan jasad Tuhan kepada Imam Syafi’e, Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar Asqalani dan Imam Ramly. Malah para imam ini lebih tinggi kualiti fatwa mereka berbanding para sahabt yang dijamin syurga! Malah Imam-imam ini juga melebihi darjat dengan rasul lantaran hadith Rasul tak bermakna jika dihadapkan kepada sebuah kalimat dari imam mazhab!

Lalu, apakah layak kalian untuk mengatakan bahwa kalian Ahlus Sunnah – sekelompok manusia yang mendahulukn hadith serta atsar diatas segala ucapan makhluk? Sedangkan kalian mendahulukan mazhab diatas segala hadith dan atsr!

Layaknya kalian dinamakan Ahlis Mazhab wal Taqlid.

Coba kalian berfikir secara merdeka, bahawa para sahabat yang mendapat pelajaran langsung dari Rasul juga bisa salah dalam berfatwa, inikan pula manusia sesudahnya.

Dan sikap untuk melecehkan hadith itu sudah wujud sekian lama, sejak dari zaman Ibn Abbas lagi, kerana itu ibn Abbas berkata:

“Aku menyangka mereka akan binasa; ketika aku mengatakan Rasulullah saw bersadba, mereka [menyangkal sabda Rasul dengan] berkata: telah berkata Abu Bakr dan Umar” 

Bayangkan, bagaimana manusia saat itu fanatik kepada kalam Khalifah Ar Rasyidin an melupakan Hadith, sehinggakan Ibn Abbas menyangka sikap itu bisa menyebabkan kemurkaan dari Ilahi.

Tetapi hari ini, manusia tidak perlu lagi takut kepada Rabbul Jalil, kerna mereka telah punya Ilah yang lain, iaitu imam para mazhab!

Lalu soalan terakhir dalam bahagian ketiga ini adalah:

“Apakah tidak ada satupun aqidah Asya’irah – Maturidiyah yang menyalahi hadith, atsar dan para salafus soleh?”

Kalau kalian katakan tidak, maka kita akan bawakan hadith-hadith yang menyalahi aqidah kalian.

Tapi kalau kalian mengatakan bahawa memang ada beberapa hadih yang kelihatan menyalahi aqidah Asya’irah, tetapi apabila dihuraikan dengan lebih mendalam akhirnya ia sejajar dengan hadith, maka kita akan bertanya; “Kalian mentafsir dan mensejajarkannya dengan menggunakan atasr mana, atau menggunakan pandangan sahabat mana, atau dengan menggunakan pandangan imam mana?”

 

Keempat

Berkaitan dengan Mazhab Asya’irah – Maturidiyah dengan kitab-kitab ulama salaf as soleh.

 

“Apakah kalian telah membaca kitab-kitab karangan ulama  sebelum Imam Asya’ari dan Abu Mansur Al Maturidi?”

Kalau belum membacanya, bagaimana kalian bisa mengatkn bahawa aqidah kalian sama seperti aqidah para imam salaf?

“Sekiranya kalian telah membacanya, apakah kalian tidak menjumpai sebarang perbezaan antara aqidah kalian dengan aqidah sang imam salaf as soleh”?

“Dan apakah kalian mengetahui bahawa Imam Asya’ari telah mengalami 2 fasa kehidupan beraqidah, iaitu mu’tazilah dan ahlus sunnah? Lalu apakah kalian bisa menetapkan bahawa aqidah yang kalian imani ini benar-benar merupakan aqidah Sunnah dan bukan percampuran antara aqidah sunnah dan mu’tazilah?”

“Begitu juga apakah kalian telah membaca kitab beliau iaitu Al Ibanah, Maqalah al Islamiyyin dan al Luma”?

 

Kelima

 

Tentang logika.

 

Seandainya aqidah Asya’irag – Maturidiyah itu benar-benar merupakan aqidah Sunnah, mengapa ia hanya muncul 300 tahun sesudah hijrah. Seolah-olah setelah kewafatan Rasulullah, aqidah yang benar itu lenyap terkambus di dalam kubur bersama-sama baginda. Sehinggakan Abu Bark ra, Umar ra, Uthman ra dan Ali ra itu adalah manusia yang tak mempunyai aqidah lurus, atau bisa saja kita panggil mereka memiliki aqidah sesat.

Atau paling kurang kita boleh katakn bahw mereka beraqidah Sunnah tetapi mereka tak memunyai disipilin aqidah yang benar – sebuah ilmu usul yang konkrik.

Keyakinan seperti ini merupakan keyakinan penderhaka dan perosak agama. Hanya orang yang tak beriman sahaj kn mengucapkan kenyatan sebegini.

Lalu ia juga seperti mengatakan bahawa para imam Mazhab; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’e dan Imam Ahmad tak bisa menyelesaikan persoalan aqidah walaupun mereka mampu membangunkan kaedah-kaedah istinbat hukum fiqh tersendiri!

Kemuiannnya setelah zaman Islam berlalu tanpa aqidah yang benar atau tanpa kemunculan ilmu usul aqidah, sekitar 300 tahun setelah Hijrah, maka seorang manusia yang sebelum itu bergelumang dengan aqidah sesat Mu’tazilah selama 40 tahun, berjaya mengunkapkan ilmu usul aqidah Mazhab Ahlu Sunnah!

Bukankah ini satu hal yang cukup ajaib! Justeru memang layaklah dia dituhankan!

Ada beberapa persoalan yang bermunculan ketika Imam Asya’ari menjadi Sunni.

Setelah dia mendebati ayah tirinya, al Juba’i, dan mendapati bahawa al Jubai’ tidak berdiri atas dalil naql, melainkan aql, maka dia berulah selama beberapa hari.

Lalu dalam beruzlah itu apakah dia duduk termanggu, atau membaca kitab-kitab karangan ulama Salaf dan meneliti kembali hadith-hadith?

Kalau kita mengandaikan dia merenung, membaca kitab aqidah salaf, menekuni hadith lalu menjumpai jalan kebenaran, maka apakah kita merasa Imam Asya’ari mencukupkan dirinya dengan hal-hal tersebut, tanpa menjumpai para ulam Ahlus Sunnah yang hidup sezaman dengannya?

Kalau kita mengatakan bahawa dizaman itu tiada ulama Ahlus Sunnah, bereti kita berdusta dan menunjukkan kita ini amatlah jahil tetap berlagak seperti alim.

Justeru kita beriman bahawa Imam Asya’ari membaca kitab-kitab aqidah para imam Salaf, meneliti hadith kemudian bertaubat dan seterusnya beliau mengunjungi para ulama ahlus sunnah dan mengambil ilmu daripada mereka.

Lalu, sekiranya begitu, apa kaitan antar Ahlus Sunnah dengan Abu Mansur Al Maturidi pula?

Dan layak kah ahlus sunnah dinisbatkan kepada Imam Asya’ari?

Atau, mungkin-mungkin para penganut mazhab Asya’irah adalah satu kelompok yang menganut aqidah campuran antara Mu’tazilah – Jahmiyah – Sufiyah – Sunnah, lantaran ketika itu Imam Asya’ari dalam proses tranformasi.

Label: , , ,

2 Respons to “Ketika Mengucapkan “Aku Asya’irah – Maturidiyah””

  1. syaikh zulqornain alngawury Says:

    sepertinya antum tak ubahnya anak tk yg baru belajar atau baru sekali ikut taklim,baru hafal satu ayat,satu hadits langsung dengan begitu mudahnya memvonis orang sesat,bid’ah,musyrik,kafir dll.apa antum sdh dijamin msk surga dgn klaim antum yang merasa paling benar?saya bisa buktikan bahwa akidah antumlah yang plg berantakan daripada asy’ariyah n maturidiyah

    Silakan syeikh untuk buktikan. tapi harus tuan syeikh bersikap adil adalam kebenaran; hanya mengemukakan bukti yang absah; jelas sumbernya dari allah dan rasul sahaja.

  2. jamaluddin bin baha ( bukan syaikh ) Says:

    kepada syaikh besar ( syaikh zulqornain alngawury )

    1. saya hairan kenapa anta meletakkan syaikh kepada nama anta ? adakah itu yang diberikan oleh ibu dan ayah anta atau sekadar ingin memberitahu manusia yang anta itu syaikh , saya pun tak pasti ..

    2. ya zulqornain sila buktikan kebenaran anta jika anta merasa tergugat apabila aqidah keyakinan anta di kritik..

    3. ya zulqornain jawab soalan diatas jika termampu.. dan saya pasti anta sendiri akan tertanya-tanya dengan persoalan yang di timbulkan..

    4. sila buktikan kesesatan aqidah salaf, kami akan buktikan, nuqilkan sahaja perkataan-perkataan imam alj-jauzi yang masyhur itu, saya sudah bersedia menjawabnya…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s


%d bloggers like this: